Tampilkan postingan dengan label Program Kerjasama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Program Kerjasama. Tampilkan semua postingan

Mahasiswa Bandung Berkebun di Rumah KAIL

Kamis sore hari menjelang buka puasa, 16 Juni 2016, belasan mahasiswa mengisi liburan di Rumah KAIL. Mereka menjadi relawan berkebun di Rumah KAIL. Dalam kegiatan berkebun ini, peran mereka adalah menyiapkan sebuah bed yang diberi nama “bed mahasiswa”. Berbeda dengan aktivitas sehari-hari di kampus yang menggunakan kertas dan pena, di hari ini mereka bekerja dengan cangkul dan arit. Keceriaan tampak di wajah mereka saat mencangkul dan mengangkut tanah, mengisi bed dengan tanah subur, hijauan dan pupuk kandang.

Mengangkut tanah

Menyusun pembatas bed
Kebun KAIL dirancang dengan menggunakan prinsip-prinsip permakultur. Mengikuti prinsip-prinsip ini, kebun KAIL dibagi menjadi beberapa zone, mulai dari zone 0 dan 1 yang paling dekat dengan Rumah KAIL sampai ke zone 5 di pinggiran sungai yang paling jauh dari Rumah KAIL. Zone 0 dan 1 berisi tanaman-tanaman yang sering digunakan, seperti sayuran, bumbu-bumbu dan bunga-bungaan, sementara zone 5 berisi tanaman kayu keras dan bambu yang berfungsi untuk penghijauan, sumber kayu bakar dan penahan erosi. Di antara zone-zone tersebut, terdapat zone 2, 3 dan 4, yang berisi tanaman buah-buahan, kolam ikan dan bebek.

Pelatihan Cara Berpikir Sistem IBEKA

Oleh: Pute

Pada tanggal 24 – 25 Mei 2016, KAIL diundang oleh IBEKA untuk mengisi materi Cara Berpikir Sistem. Pelatihan dilaksanakan di Panaruban dan mengisi hari ke-28 dan ke-29 peserta di camp dan diikuti oleh 85 peserta camp yang dilaksanakan oleh IBEKA. Selama dua hari, peserta mengikuti rangkaian materi Cara Berpikir Sistem yang diberikan oleh KAIL. Materi dibawakan secara bergantian oleh staf KAIL.

Pemberian materi mengenai Perilaku Sistem BOT oleh Melly Amalia

Diskusi dengan mentor kelompok mengenai materi

Peserta membuat kelompok dengan masing-masing kelompok berisi 14 – 15 orang. Di dalam kelompok, peserta diajak untuk menggambarkan visi berdasarkan studi kasus, dan dikenalkan dengan tools dalam cara berpikir sistem, seperti indikator, Behavior Over Time (BOT), Causal Loop Diagram (CLD), dan leverage points. Peserta juga diberikan materi mengenai logika sebab-akibat. Pemberian materi tidak hanya melalui presentasi oleh pemateri dan diskusi kelompok, tapi juga melalui permainan seperti segitiga idola dan living loop.

Antusiasme peserta dalam berdiskusi

Peserta menggambar visi dari studi kasus dalam satu kelompok

Indikator dan BOT dari salah satu kelompok

Permainan living loop

Semua peserta mengikuti pelatihan ini dengan antusias. Banyak muncul pertanyaan-pertanyaan dari benak peserta. Selama pelatihan pun diskusi-diskusi mengenai materi ini tergaung di seluruh penjuru aula masjid tempat pelatihan dilaksanakan. Dua hari tidaklah cukup untuk mendalami cara berpikir sistem. Diharapkan peserta dapat memanfaatkan cara berpikir sistem dengan baik.


Siswa Siswi SMKN 15 Bandung ikut Pelatihan Cara Berpikir Sistem di Rumah KAIL

Pada tanggal 8 Oktober 2014 yang lalu, 17 relawan GSSI dari SMKN 15, Bandung mengikuti pelatihan Cara Berpikir Sistem (CBS) di Rumah KAIL, Kampung Cigarugak, Desa Giri Mekar, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung. Pelatihan ini dipandu oleh Tim fasilitator CBS KAIL, yaitu: Deta Ratna Kristanti, Melly Amalia dan Any Sulistyowati dan didukung oleh tim relawan KAIL, yaitu: Alfred dari Buku Untuk Papua dan Agustein Okamita.






Dalam pelatihan ini para peserta mendapatkan materi tentang Pentingnya Cara Berpikir Sistem dan berbagai metodologi serta tools (alat-alat bantu) yang digunakan dalam Cara Berpikir Sistem, yaitu: Behaviour Over Time Diagram (BOT), Causal Loop Diagram (CLD) dan Leverage Points. Untuk memperkuat pemahaman mereka, para peserta diajak langsung menerapkan tools tersebut untuk menganalisis persoalan di lokasi magang masing-masing.


Dengan suasana yang akrab dan penuh kegembiraan, tetapi tetap serius, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Setelah sesi berfoto bersama, para relawan GSSI pun akhirnya meninggalkan Rumah KAIL. Sampai bertemu lagi pada lain kesempatan!

Menggali Potensi untuk Pengembangan Komunitas


Pada tanggal 12 Juli 2014 yang lalu, KAIL mengisi acara di BINED (Bincang Edukasi). Acara ini dipandu oleh Any Sulistyowati sebagai fasilitator. Kegiatan ini berlangsung di Simpul Space BCCF di Jalan Purnawarman, Bandung. Pada kesempatan tersebut sekitar 40 peserta dari berbagai komunitas seputar Bandung hadir dan aktif terlibat dalam kegiatan ini. Mereka berbagi cerita tentang kegiatan-kegiatan mereka dan harapan-harapan mereka akan pengembangan jaringan di Bandung. Para peserta sangat aktif berpartisipasi, baik di dalam diskusi kelompok, maupun dalam sesi-sesi pleno. Senang sekali melihat antusiasme dari peserta. Tiga jam pun berlangsung dengan cepat. Mudah-mudahan acara ini bermanfaat untuk pengembangan Bandung yang lebih baik.

Peresmian Saung Bandasari

Hari ini, tanggal 10 Juni 2014, para staff KAIL dan YPBB berkunjung ke Bandasari untuk syukuran peresmian Saung Bandasari. Saung Bandasari terletak di Desa Bandasari, di mana YPBB dan KAIL memiliki sebidang tanah yang dalam rencana jangka panjang akan dijadikan Ecovillage. Saung ini adalah salah satu bangunan pertama yang didirikan di lokasi tersebut. Bangunan tersebut terbuat dari bambu dan terdiri atas sebuah ruang terbuka yang luas, sebuah ruang terbuka yang lebih kecil dan dua kamar tidur. Selain saung, dua buah kamar mandi juga telah dibangun, lengkap dengan biodigester sebagai pengganti septic tank kolam bertingkat yang nantinya akan berfungsi sebagai pengolah limbah air kamar mandi (grey water).


Luas tanah di Bandasari sekitar 2.5 hektar, yang terdiri atas bukit, lembah dan sawah. Sebagian sawah dialih fungsikan untuk kolam ikan. Dalam jangka panjang, seluruh site akan dirancang dengan mengikuti prinsip-prinsip Permaculture. Mengikuti prinsip tersebut, site akan dibagi menjadi beberapa zone, mulai dari zone 0 sebagai tempat yang paling banyak aktivitas manusia, seperti rumah, saung, dapur dll, sampai ke zone 5, di mana akan ditanam pohon-pohon kayu asli Jawa Barat sebagai bagian dari upaya penghijauan kembali daerah itu yang sudah gundul di banyak bagiannya.



Selain staff YPBB dan KAIL, turut hadir dalam acara syukuran, Ketua RT setempat, para tukang, keluarga dari Gungun Gunawan, Koordinator Program Ecovillage ini


Syukuran tidak akan lengkap tanpa makanan. Dalam acara ini disajikan tumpeng nasi kuning berikut lauk pauk yang lezat buatan Mama dari Gungun. Peresmian saung ditandai dengan penyerahan nasi tumpeng dari David Sutasurya, wakil dari YPBB kepada Thomas, wakil dari KAIL (hadirin termuda) dan Pak RT.

Anak-anak pun ikut hadir dalam acara ini. Mereka tidak henti-hentinya bermain bersama. Mereka sempat berjalan-jalan mengelilingi lokasi. Berjalan dan berlari naik turun bukit. Beberapa anak bahkan sampai berulang kali. Sepertinya mereka tidak punya rasa lelah seharian di Bandasari.

Tentu saja acara ditutup dengan foto bersama.

Mudah-mudahan apa yang sudah dimulai memberikan manfaat bagi alam dan banyak orang.


Kemah Pramuka Homeschooler Bandung

Tanggal 29-30 May 2014 yang lalu, 23 anggota Pramuka Siaga dari Homeschooler Bandung berkemah di Rumah KAIL. Perkemahan tersebut berlangsung sejak Kamis pagi sampai dengan Jum'at pagi.
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama berkemah di antaranya adalah mendirikan tenda, memasak, makan bersama, berjalan-jalan, latihan semaphore, nonton film, api unggun, upacara dan banyak lagi.

Selama perkemahan mereka dipandu oleh Yanda Ato dan didampingi oleh kawan-kawan Buci dan Pakci-nya. Dalam perkemahan ini, anak-anak diajak belajar mandiri dan bekerjasama. Mereka terlibat sejak persiapan dari awal sampai akhir kegiatan. Perkemahan ini merupakan latihan persiapan untuk kemah yang sebenarnya di Gunung Puntang.

Kelompok Pramuka ini telah berkegiatan bersama sejak bulan Oktober 2013 yang lalu. Selama ini kegiatan-kegiatannya menggunakan ruang publik di Kota Bandung seperti di Taman Ganesha dan Taman Lansia. Pada umumnya kegiatan berlangsung setiap hari Kamis, pukul 9 pagi -12 siang. Seluruh pembiayaan kegiatan Pramuka disediakan secara swadaya oleh para peserta.

Dalam setiap kegiatan Pramuka, para orang tua secara bergantian selalu terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan kegiatan. Mereka sangat mendukung kegiatan anak-anak mereka di kelompok Pramuka ini. Lewat kegiatan Pramuka ini anak-anak saling mengenal satu sama lain dan berinteraksi dalam kegiatan-kegiatan yang positif. Sebagaimana anak-anak bahagia mengikuti kegiatan Pramuka, para orang tua bangga dan bahagia melihat perkembangan positif pada anak-anak mereka karena keterlibatannya dalam kegiatan Pramuka ini. Semakin lama semakin banyak ketrampilan yang dimiliki oleh anak-anak ini.

Semoga makin banyak anak mengalami proses belajar yang positif dan menyenangkan seperti anak-anak Pramuka ini!

Pelatihan Cara Berpikir Sistem untuk staff GSSI

Pada tanggal 27 Mei 2014, 13 relawan dari GSSI hadir di Rumah KAIL untuk mengikuti Pelatihan Cara Berpikir Sistem. Pelatihan berjalan selama satu hari mulai jam 9 pagi sampai dengan jam 5.30 sore. Dalam pelatihan tersebut peserta mempelajari pentingnya cara berpikir sistem, tools-tools yang digunakan, misalnya Behaviour Over Time Diagram (BOT) dan Causal Loop Diagram (CLD), leverage points, serta mempraktekannya dalam kasus masing-masing. Dalam praktek ini setiap kelompok didampingi oleh seorang mentor. Setelah selesai, hasil kerja peserta dipresentasikan di pleno.







Tim KAIL Mengajar Cara Berpikir Sistem untuk Peserta CSL 2013




Pada tanggal 2 – 8 Desember 2013, Tim KAIL yang beranggotakan David Ardes Setiady dan Selly Agustina menjadi salah satu pemateri tentang Cara Berpikir Sistem untuk program Climate Smart Leaders Camp 2013 (disingkat CSL Camp 2013). Acara CSL Camp 2013 merupakan program tahunan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan yang bertujuan untuk memperkenalkan isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development) kepada para anak muda Indonesia sehingga dapat sedini mungkin mengambil tindakan untuk perubahan yang lebih baik. CSL Camp 2013 merupakan angkatan ke-4 semenjak diadakan pada tahun 2010. Para peserta CSL dibagi ke dalam 2 kategori yaitu : kategori pelajar SMU dan kategori mahasiswa.

CSL Camp 2013 mengambil lokasi di kampus IPB Darmaga, di mana menjadi lingkungan yang cukup mendukung pembelajaran para peserta tentang isu pembangunan berkelanjutan, secara khusus tentang perubahan iklim. Tim KAIL mengisi pada hari ke-2 yakni pada tanggal 3 Desember 2013 untuk memperkenalkan Cara Berpikir Sistem (disingkat CBS) kepada para peserta. Dengan memperkenalkan CBS, para peserta diharapkan bisa mengukur dampak dari project yang mereka rancang setelah memetakannya ke dalam Causal Loop Diagram.
David Ardes Setiady menjadi fasilitator utama untuk memperkenalkan CBS kepada para peserta, dibantu oleh Selly Agustina sebagai co-fasilitator. Sementara juga ada Annye Meilani dari YPB dan Michael Zakarias sebagai pementor kelompok.

Para peserta CSL berkenalan dengan istilah-istilah : indikator, behavior over time diagram (BOT), Causal Loop Diagram (CLD), reinforcing loop, balancing loop, S/O.

Para peserta sedikit mengalami kesulitan untuk memetakan project yang telah mereka rancang, namun dengan bimbingan dari para pementor, mereka mulai memahami indikator-indikator yang harus mereka susun. 

Pembelajaran tentang CBS mengantarkan mereka untuk memahami materi-materi yang lain tentang pembangunan berkelanjutan, serta melihat kompleksitas persoalan yang ada di lapangan. Namun, kiranya pengalaman ini menguatkan mereka dalam melaksanakan project di lapangan dan ke depannya mereka  bisa menjadi pemimpin yang menentukan kebijakan bagi Indonesia.

Fish Bank untuk BKKBN


Atas undangan dari Maria Gayatri yang merupakan koordinator program pelatihan BKKBN, KAIL berkesempatan untuk memberikan materi Fishbanks kepada bapak ibu Kepala BKKBN Provinsi. Kegiatan ini diadakan di Bogor pada tanggal 23 Oktober 2012, pada pukul 13.30 WIB sampai dengan pukul 18.00 WIB. Para peserta yang terlibat dalam kegiatan ini berkisar 35 orang yang merupakan pimpinan BKKBN provinsi yang datang dari berbagai penjuru di Indonesia.

Any Sulistyowati sebagai fasilitator dalam simulasi permainan Fishbanks, terlebih dahulu menjelaskan tentang apa yang akan dilakukan oleh para peserta. Para peserta dibagi ke dalam 5 kelompok yang terbentuk melalui posisi duduk yang terbagi ke dalam 5 meja besar sehingga setiap kelompok memiliki 7 anggota. Para peserta kemudian diminta untuk membuat perusahaan penangkapan ikan lengkap dengan nama dan struktur perusahaannya. Lalu fasilitator menjelaskan tentang aturan permainan dan kemudian memberikan modal dalam jumlah yang sama kepada setiap perusahaan berupa kapal dan uang dalam bentuk elektronik. Setelah itu, para peserta diminta menyusun strategi penangkapan setiap tahun, termasuk pembagian peran setiap anggota kelompoknya dalam menyukseskan bisnis penangkapan ikan tersebut.

Simulasi permainan dibagi ke dalam 8 putaran, di mana masing-masing putaran, peserta akan memasukkan strategi penangkapannya ke dalam sebuah form yang memperlihatkan jumlah kapal yang disebarkan ke dalam areal penangkapan ikan. Angka di dalam form tersebut diinput ke dalam komputer untuk kemudian memberikan hasil dari strategi setiap perusahaan di setiap putaran. Untuk mengoperasikan software ini, David Ardes Setiady menjadi operator yang menginput data dari para peserta.

Suasana permainan berlangsung sangat ramai, di mana terjadi negosiasi jual beli kapal di antara perusahaan dan juga perebutan kapal di saat pelelangan yang dilakukan oleh fasilitator. Bahkan, sempat terjadi sengketa bisnis di antara 2 perusahaan karena proses jual beli yang tidak menemukan kata sepakat. Sengketa kemudian diselesaikan dengan mengumpulkan perwakilan dari setiap perusahaan untuk memediasi proses negosiasi penyelesaiannya. Akhirnya pada putaran ke-8, permainan berhenti dan fasilitator memberikan debrief tentang permainan tersebut. Debrief mengangkat tentang daya dukung alam yang selama ini sering luput bahkan diabaikan oleh manusia.

Pukul 18.00 WIB, kegiatan Fishbanks selesai dan Tim KAIL yang beranggotakan Any Sulistyowati dan David Ardes Setiady bersiap untuk pulang ke Bandung esok harinya.
(David)

Tim KAIL melatih Cara Berpikir Sistem dalam "Bridging Leadership Program" di Medan



Bulan Oktober 2012 yang lalu, KAIL memberikan proses lokakarya tentang Bridging Leadership Program kepada Yayasan Leuser Internasional (YLI) di Medan. Lokakarya ini merupakan satu rangkaian kegiatan bersama dengan YPBB yang memberikan materi tentang pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Lokakarya diadakan di kantor YLI yang berada di dalam komplek Universitas Sumatera Utara, Medan. 

Dengan peserta berjumlah 9 orang, rombongan KAIL dan YPBB disambut oleh Bapak Burhanudin selaku perwakilan YLI. Tim KAIL terdiri dari Any Sulistyowati selaku fasilitator utama untuk materi Cara Berpikir Sistem, David Ardes Setiady sebagai Penanggung Jawab Notulensi dan Dokumentasi. Tim YPBB beranggotakan David Sutasurya sebagai fasilitator untuk materi Pembangunan Berkelanjutan bersama dengan Fictor Ferdinan. Adapun Annye Frida Meilani Simbolon sebagai perwakilan dari Yayasan Pembangunan Berkelanjutan, ikut berpartisipasi dalam penyelenggaraan lokakarya di Medan ini. Tim YPBB dan KAIL dibantu oleh 2 orang relawan dari Aceh, yaitu Hidayat dan YY Dinar. Lokakarya ini diselenggarakan pada tanggal 17 Oktober sampai dengan 21 Oktober 2012.


Kegiatan lokakarya ini Bridging Leadership Program merupakan program kerja sama dengan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan yang bertujuan untuk memperkuat kapasitas staf YLI dalam menangani isu-isu di lapangan seiring dengan perkembangan situasi yang semakin kompleks. Materi cara berpikir sistem membantu para peserta menata kompleksitas persoalan di lapangan dan menelaah lebih jauh tentang paradigma yang mendasari struktur persoalan tersebut. Di akhir hari pelatihan, para peserta tampak sumringah karena mendapatkan sebuah pencerahan terhadap persoalan yang dihadapi oleh YLI dan bagaimana tindak lanjutnya.

Yayasan Leuser Internasional (YLI) adalah lembaga non-profit yang memiliki visi untuk melestarikan sumber daya alam hayati dan ekosistem yang berada di dalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitarnya.

Info lebih lanjut mengenai Yayasan Leuser Internasional lihat di www.leuserfoundation.org
(DAS)

Tim KAIL melatih Cara Berpikir Sistem di PT Divusi


Siang itu hari Kamis tanggal 6 Sepetember 2012, koordinator Kail, Any Sulistyowati beserta dua orang staf Kail yaitu David dan Selly bergegas menuju Jalan Kyai Gede Utama Nomor 12 Bandung untuk memenuhi janji akan memberikan pengantar Cara Berpikir Sistem dan Pengantar System Dynamic Modeling kepada para staf PT.Divusi, yang merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT.

Tiga orang staf Kail datang tepat waktu sesuai dengan yang dijanjikan yaitu pukul dua siang. Kami langsung diantar menuju ruang rapat yang sudah disediakan dan di-setting untuk pelatihan singkat ini. Sudah berkumpul beberapa orang staf PT. Divusi diantaranya Pak Eri sendiri, Erman, Giri, Husain, Ferdian, Faqih, Risa, Andika, dan Rian. Setelah perkenalan seperlunya, Mbak Any langsung masuk ke materi pertama Cara Berpikir Sistem yaitu pengertian tentang sistem, pengertian Cara Berpikir Sistem, kegunaan Cara Berpikir Sistem, Behaviour Over Time (BOT), dan Causal Loop Diagram (CLD). Selain itu digunakan beberapa simulasi Living Loop dan Leverage Point agar peserta lebih mudah dalam memahami materi. Materi yang biasanya diberikan untuk beberapa hari, kali ini hanya dibawakan dalam tiga jam saja. 

Setelah materi dasar Cara Berpikir Sistem di atas, kemudian penjelasan Mbak Any mulai masuk ke materi System Dynamic Modeling. Dimulai dengan bagaimana cara mengubah Causal Loop Diagram (CLD) menjadi diagram Stok dan Flow kemudian dilanjutkan dengan simulasi pembuatan model System Dynamic menggunakan software di komputer bernama Vensim. Pada sesi ini semua peserta terlihat tekun dan asyik dengan laptop-nya masing-masing. Logika dan permainan rumus matematika dasar dilatih kembali agar angka-angka yang dihasilkan di layar bisa sesuai. Akhirnya pelatihan singkat Kail bersama teman-teman dari PT Divusi diakhiri dengan sesi tanya-jawab peserta. Ternyata teman-teman dari PT Divusi termasuk peserta yang paling cepat memahami materi, terlihat dari pertanyaan-pertanyaan kritis yang mereka ajukan. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore dan acara ditutup dengan ucapan terima kasih dari kedua belah pihak.

Arpillera untuk refleksi Live In - SMU Van Lith




‘Wah saya ga bisa menjahit, belum pernah pegang jarum jahit nih,” begitu komentar salah satu peserta SMA Van Lith saat kami mengeluarkan peralatan Arpillera.  Kami tersenyum dan mencoba memberikan penjelasan di awal bahwa yang dibutuhkan untuk membuat karya sebuah Arpillera tidak sesulit yang dibayangkan.

Tepatnya tanggal 16 Juni 2012 Kail diundang oleh alumni SMA Van Lith yang berdomisili di Bandung untuk melakukan refleksi proses magang dan live in siswa SMA Van Lith, Magelang yang telah melakukan magang selama dua minggu. Uniknya, proses refleksi tersebut dituangkan dalam karya Arpillera. Selama dua minggu tersebut mereka live in di beberapa keluarga di Bandung dan magang di tempat-tempat yang menjadi ketertarikan mereka. Salah satunya Cinthya, seorang siswa yang mempunyai ketertarikan dengan dunia LSM, akhirnya memilih rumah Any Sulistyowati (pendiri dan koordinator Kail) sebagai tempat menimba ilmu.

Hari itu kami, saya dan Selly sudah tiba di lokasi satu jam sebelum waktu yang disepakati yaitu pukul 12.30 WIB. Ternyata teman-teman dari Van Lith sedang melakukan kunjungan ke Museum Geologi. Sambil menunggu kedatangan peserta, kami menyiapkan segala perlengkapan Arpillera dan menempel beberapa karya di dinding. Pukul 2 siang lokakarya Arpillera dimulai dengan sesi perkenalan melalui permainan, dan menengok kembali perjalanan magang peserta di beberapa tempat. Mendengar hal-hal menarik yang mereka dapatkan selama magang. Setelah itu Selly mengenalkan apa itu Arpillera, sejarah munculnya Arpillera, digunakan untuk apa, peralatan apa saja yang dibutuhkan dan tips membuat Arpillera. Yang dilakukan selanjutnya adalah praktek membuat Arpillera yang disesuaikan dengan refleksi magang masing-masing. Meskipun ada kendala dalam menggunakan jarum dan membuat tusuk feston, tapi semangat peserta tidak tergoyahkan, termasuk siswa laki-laki. Waktu dua jam ternyata tidak cukup untuk menyelesaikan secara tuntas hasil karya peserta. Sebagai penutup sesi, peserta menceritakan Arpillera masing-masing.


Cukup menyenangkan berkumpul dan canda tawa dengan teman-teman dari SMA Van Lith. Acara diakhiri dengan foto bersama dan ucapan terima kasih dengan iringan yel-yel ala Van Lith. Terima kasih teman-teman atas kebersamaannya.

(Melly)