Tampilkan postingan dengan label Hari Belajar KAIL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hari Belajar KAIL. Tampilkan semua postingan

[LIPUTAN] Hari Belajar KAIL: Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran 27 Mei 2018

Hari Belajar KAIL (HBK) bulan ini bertema “Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran”. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2018 ini menghadirkan dua narasumber utama: Susen Suryanto dari PIKPL Semanggi dan Angga Dwiartama, seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hayati, Institut Teknologi Bandung. Peserta dari kegiatan ini dihadiri oleh 9 orang peserta. Tidak kurang dari 3 relawan KAIL mendukung kegiatan ini , yaitu Fikri Amri dan Melly Amalia sebagai notulis serta Umbu Justin sebagai dokumentasi foto. Sedangkan 5 orang staf KAIL turut hadir sebagai relawan pada hari tersebut.

Foto bersama dengan peserta dan narasumber

Pembicara pertama, Susen Suryanto, mengawali kegiatan belajar bersama ini dengan membawakan topik “Kedaulatan Pangan Keluarga”. Ia memulai presentasinya dengan mengangkat hubungan pangan dengan kesehatan manusia. Pangan dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan berkembang. Namun, agar mencapai fungsinya yang optimal dan demi tercapainya kesehatan manusia yang mengonsumsi pangan tersebut, maka penting sekali untuk memperhatikan bagaimana memproses suatu makanan.

Susen juga mengajak peserta untuk mempertanyakan tentang kemandirian manusia dalam mengadakan bahan pangan itu dalam hidup kesehariannya. Apakah manusia, khususnya masyarakat di Indonesia telah berdaulat pangan? Apakah bedanya antara ketahanan pangan dan kedaulatan pangan? Sesungguhnya, suatu masyarakat mampu mencapai kedaulatan pangannya apabila ia mampu mengendalikan, mengadakan sendiri pangannya sejak dari pengadaan benih tanaman pangan itu sendiri.

Narasumber Susen Suryanto

Namun, pengadaan bahan pangan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh keaslian lingkungan asal dari tanaman pangan. Sehingga tanaman pangan yang khas tumbuh di suatu daerah, belum tentu memiliki rasa yang sama apabila ditumbuhkan di daerah lain. Susen memberi contoh ubi cilembu yang merupakan tanaman khas dari desa Cilembu, di kaki gunung Kareumbi, Jawa Barat. Apabila ubi cilembu ditumbuhkan di Papua misalnya, maka rasa manis ubi yang ditanam di Papua, tidak sama dengan rasa manis ubi yang tumbuh di daerah asalnya. Oleh karena itu, Susen mempercayai bahwa faktor genetik, lingkungan dan interaksi antara genetik dan lingkungan sangat besar pengaruhnya pada rasa dan penampilan suatu bahan pangan.

Susen menutup presentasinya dengan menekankan kepada pentingnya pertanian dalam seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu, jika selama ini para petani dan bidang pertanian itu sendiri, seolah-olah menjadi inferior dibandingkan aspek-aspek kehidupan lainnya, maka perlu untuk mengubah paradigma tersebut.

Materi belajar yang kedua pada HBK ini dibawakan oleh Angga Dwiartama. Angga membawakan materi berjudul “Menelusuri Jejak Pangan Kita”. Ia mengawali materinya dengan ajakan kepada para peserta untuk merefleksikan tentang makanan yang dikonsumsi selama satu minggu terakhir. Apa saja yang sudah dimakan? Dari mana makanan tersebut didapat? Dari mana penjual mendapatkan makanan tersebut? Sejauh mana kita bisa menelusuri rantai pangan kita sendiri?
Makalah yang dibawakan Angga ini mengacu pada buku yang ditulis oleh Michael Carolan, berjudul “No One Eats Alone”. Michael meyakini bahwa, ketika seseorang makan, ia tidak makan sendirian. Ia berinteraksi dengan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengadaan bahan pangan tersebut.

Narasumber Angga Dwiartama

Maka, pangan itu sendiri memiliki sebuah sistem. Sebuah sistem pangan adalah sistem yang menghubungkan pelaku pangan mulai dari pihak yang memproduksi, pihak yang memasarkan hasil produksi hingga kepada pihak yang mengonsumsi pangan tersebut.

Lebih jauh lagi, Angga mengajak untuk turut mempertimbangkan satu faktor dalam sistem pangan, yaitu ecological footprint (jejak ekologi) di dalam sistem pangan kita. Jejak ekologi di dalam sistem pangan mengukur dampak langsung serta tidak langsung dari mekanisme pengadaan bahan pangan yang dikonversi ke dalam jumlah karbon yang dihasilkan dari pengadaan pangan tersebut. Angga memberi contoh perbandingan bahan pangan yang diperoleh dari pasar lokal terdekat dengan bahan pangan yang diperoleh secara impor yang dibeli di supermarket yang jaraknya sekian kilometer jauhnya dari rumah kita sendiri. Jejak karbon yang dihasilkan dari bahan pangan impor tentunya lebih besar daripada jejak karbon yang dihasilkan dari bahan pangan yang dibeli di pasar lokal terdekat. Bahan pangan yang diambil dari kebun sendiri, tentu tidak memiliki jejak karbon sama sekali.

Paralel dengan pertimbangan jejak ekologi dalam pengadaan pangan, terdapat pula perhitungan Life Cycle Analysis (LCA) sebuah produk pangan. Dalam LCA ini, per unit produk diukur dampaknya terhadap lingkungan dari pengadaan sampai setelah pemakaian.

Mempertimbangkan jejak ekologi serta LCA dalam pengadaan bahan pangan, kita tentu akan lebih mempertimbangkan lokalitas makanan yang kita peroleh. Dengan memilih pangan lokal, maka terdapat beberapa kontribusi kita terhadap ekologi (mengurangi terbentuknya karbon di udara) dan secara ekonomi kita lebih memenangkan sistem ekonomi moral dibandingkan ekonomi pasar. Angga menutup materinya dengan memaparkan aktor-aktor yang sudah bergerak di bidang pangan lokal dengan jejak ekologis rendah. Ia

Materi yang dibawakan oleh kedua narasumber ini mengundang banyak pendapat dan pertanyaan. Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, yang sedianya berlangsung kurang dari setengah jam, akhirnya memanjang sampai lebih dari satu jam. Diskusi berlangsung hangat di mana semua yang hadir dapat bertanya dan memberikan pendapat. Topik-topik sistem pangan yang muncul dalam diskusi antara lain adalah indikator carbon footprint, dampak lingkungan, genetic bank, tanaman perennial, kalender pangan, dan lain-lain.

Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung dengan hangat

Sesi diskusi dan tanya jawab diakhiri dengan pernyataan yang membawa perenungan mendalam dari Susen, tentang betapa kayanya keanekaragaman sumber daya alam dan pengetahuan pangan di Indonesia. Namun saat ini kekayaan tersebut masih kurang diolah oleh generasi masa kini. Putusnya kekayaan dan pengetahuan tersebut penting untuk disambung kembali. Tugas tersebut berada di pundak generasi muda Indonesia masa kini.

Setelah sesi tanya jawab, peserta HBK mulai praktek menubuhkan pilihan pangan berkesadaran dengan merumuskan menu makanan dan cara pengolahan, yang bahannya akan dipanen bersama langsung dari kebun KAIL. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Setiap kelompok akan membuat pilihan menu: kelompok satu membuat makanan ringan dan minuman segar, serta kelompok dua membuat pendamping nasi.


Merumuskan dan mempresentasikan menu makanan yang akan dibuat

Hasil perumusan menu pun dipresentasikan antar dua kelompok, yaitu antara lain:

1. Kelompok makanan ringan dan minuman segar, membuat: sop buah beri, setup buah jambu, wedang sereh-jahe, talas dan singkong panggang, serta sambal cabe-bawang putih-bawang merah-daun jeruk-markisa
2. Kelompok makanan pendamping nasi, yaitu : telur bebek dadar dengan daun ginseng dan kenikir, saus tomat dari campuran papaya, tomat ceri, markisa, dan talas), perkedel talas, serta tumis pepaya muda dan bunga pepaya.

Selama 2.5 jam, dari pukul 15:00 - 17:30 para peserta, staf dan relawan yang hadir melakukan panen di kebun KAIL, kemudian mengolahnya menjadi makanan dan minuman yang siap disantap bersama. Keramahtamahan dan diskusi lebih lanjut pun terjalin di sesi panen, pengolahan, hingga santap bersama.

 

 

 
Sesi panen dan mengolah pangan bersama

Acara diakhiri pada pukul 19:00 dengan refleksi bersama dari semua yang hadir. Secara umum, semua peserta termasuk panitia senang dan puas dengan keseluruhan diskusi dan praktek yang telah terlaksana sepanjang satu hari ini. Banyak pengetahuan dan kepedulian yang dibagikan bersama, untuk pilihan pangan yang lebih berkesadaran.


Refleksi akhir setelah santap bersama-sama

[INFO KEGIATAN] HARI BELAJAR KAIL: Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran - 27 Mei 2018


Setiap orang mengkonsumsi pangan dari berbagai sumber, setiap hari. Semua yang kita konsumsi, meresap ke dalam tubuh dan keseharian kita. Lalu menjadi kebiasaan dan kebudayaan yang kembali mempengaruhi sistem kompleks penyediaan pangan.
Pilihan berkesadaran dalam keseharian; sebuah langkah awal untuk memutus rantai masalah. Pilihan berkesadaran diharapkan dapat menjadi gerakan yang meningkatkan kualitas hidup kita, sesama, dan alam.
***


Mari bergabung dan berbagi tentang Kedaulatan Pangan dan Jejak Pangan Kita bersama Susen Suryanto dan Angga Dwiartama. Serta mendapatkan Pengalaman Pangan di Rumah KAIL mulai dari panen dari kebun, mengolah bersama-sama, hingga santap bersama di waktu berbuka puasa, dalam kegiatan:

Hari Belajar KAIL
"MENGAMBIL PILIHAN PANGAN BERKESADARAN"

Minggu, 27 Mei 2018
Pukul 10:00-19:00

di Rumah KAIL,
Kp. Cigarugak, Desa Girimekar,
Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung

Kontribusi:
Rp 60.000/peserta
(KAIL juga menerima sumbangan sukarela
untuk membantu penyelenggaraan kegiatan)

Pendaftaran:

TOR & Agenda:

Informasi:
0813-9429-0336
(SMS/Whatsapp)

Mari bergabung, mari belajar, mari berbagi bersama!



x

[INFO KEGIATAN] Hari Belajar KAIL "Self-Healing for Healthy & Happy Life"


Banyak kerja keras dilakukan oleh seorang aktivis untuk mencapai perubahan yang diinginkan. Kelelahan dan stress, atau burning out, adalah persoalan yang kemudian banyak dihadapi. Hal tersebut tentu dialami semua aktivis di berbagai bidang garap.


Lalu ketiadaan ruang dan waktu untuk memikirkan diri sendiri pun menghabiskan energi. Jika kita kehabisan energi, lalu bagaimana harapan-harapan kita dapat dicapai?

Hari Belajar KAIL "Self-Healing for Healthy & Happy Life" menyediakan ruang bagi siapa saja yang rindu memulihkan dan menyegarkan dirinya.


Kegiatan ini akan diadakan pada
Sabtu, 28 Oktober 2017
Pukul 08:00-16:00

di Rumah Kail
Kp. Cigarugak, Desa Girimekar,
Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung
(bit.ly/rumahkail)

Anda bisa bergabung dan menemukan cara-cara kreatif dan mandiri untuk recharging diri Anda. Termasuk menemukan kawan-kawan untuk berbagi makna kesehatan dan kebahagian.

Bergabunglah dengan mendaftar di
bit.ly/HBK1710 (Paling lambat 26 Okt 2017)

dengan kontribusi Rp 35.000
(Termasuk makan siang & snack sehat)

Mari bergabung, semua diundang.

[LIPUTAN] Hari Belajar Kail: Mencapai Kehidupan Holistik melalui Pola Hidup Sehat Alami

oleh Rilis Eka Perkasa



Cerahnya cuaca menghiasi suasana pagi akhir pekan itu. Matahari pagi seolah menyemarakkan jalannya Hari Belajar KAIL (HBK) pada Sabtu, 29 Juni 2017. HBK yang mengambil tajuk “Pola Hidup Sehat Alami – Hidup Sehat dan Penyembuhan Diri Berdasarkan Ilmu Medis” ini dihadiri oleh 7 orang peserta dari berbagai latar belakang. Enam peserta ini nantinya akan mengikuti presentasi tentang pola hidup sehat dan workshop praktik olah napas yang dibawakan oleh dr. Rini Damayanti, DCN. Dengan keahliannya sebagai praktisi olah napas dan olah gerak Bio Energy Power (BEP), Ibu Rini meningkatkan wawasan peserta mengenai pengaturan pola hidup selama 3 jam ke depan dengan dipandu oleh relawan moderator Okie Fauzi Rachman.


Kesehatan mungkin memang bukan segalanya sehingga banyak orang yang tidak benar-benar merasakan kehadirannya. Demikian pendapat dr. Rini saat membuka pemaparannya. Namun Beliau menekankan bahwa tanpa kesehatan segala hal menjadi tiada artinya. Beruntunglah manusia, karena manusia memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Secara alami, tubuh manusia dapat menyembuhkan penyakit yang dideritanya apabila ditunjang dengan pola hidup yang tepat, mulai dari berpola pikir positif, mengkonsumsi makanan yang baik dan benar, berolahraga secara rutin, hingga memastikan tubuh menerima sinar matahari dan udara segar.

Sesekali, pemaparan diselingi oleh diskusi dengan para peserta. Diskusi paling seru berlangsung saat membicarakan masalah makanan yang baik. Berbagai persoalan dalam pengolahan makanan dibahas, mulai dari rasio yang tepat antara sayuran dalam makanan sehari-hari, buruknya memasak ulang atau memanasi makanan, hingga bahwa sebenarnya labu tidak perlu dikupas untuk dikonsumsi. Semua dilakukan untuk memaksimalkan kandungan gizi dan serat dari makanan yang disantap sehari-hari. Pola istirahat juga harus diperhatikan untuk menjaga kesehatan tubuh. Menurut Ibu Rini, hati manusia bekerja maksimal di malam hari, kira-kira antara pukul 11 hingga 1 malam. Oleh karenanya, sebaiknya di saat-saat itu seseorang tidur agar hatinya dapat bekerja dengan baik.

Menginjak pembahasan mengenai pernapasan, dr. Rini mengajak peserta untuk memahami metode yang tepat untuk melatih pernapasan. Beliau menganjurkan untuk menggunakan hidung untuk menarik napas dan menggunakan mulut untuk membuangnya. Hal ini dilakukan untuk menjaga kesehatan organ-organ pernapasan dan meningkatkan kualitas udara yang dihirup. Selanjutnya, Ibu Rini mengajarkan gerakan-gerakan untuk melatih pernapasan. Menariknya, latihan pernapasan ala BEP tidak melulu memperhatikan unsur fisiologis dalam pernapasan. Unsur chi atau energi tubuh, yang disentuh secara mendalam pada pengobatan alternatif Asia Timur, juga turut dijadikan perhitungan. Oleh karenanya, gerakan-gerakan yang dilakukan juga ditujukan untuk mengoptimalkan peredaran chi dalam tubuh. Jadilah gerakan latihan pola pernapasan ini layaknya gerakan-gerakan dalam seni bela diri Tai Chi.

Acara kemudian dilanjutkan dengan workshop olah napas. Para peserta diajak duduk melingkar dengan nyaman di atas kursi. Pertama-tama, para peserta mempraktikkan metode bernapas yang baik. Sembari berkelakar, dr. Rini menyampaikan, “Tidak perlu kuatir muka jadi jelek waktu latihan olah napas.” Memang, ketika menarik napas dalam-dalam dengan metode yang benar wajah terlihat seolah-olah seperti sedang manyun atau cemberut. Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan mempraktikkan gerakan dasar yang sebelumnya sudah dicontohkan dan memadukannya dengan gerakan-gerakan lain sehingga didapat tiga jenis pola gerak. Untuk melatih pernapasan, ketiga pola gerak tadi dilakukan sebanyak lima set. Untuk menutup latihan pernapasan, dilakukanlah gerakan penutup. Di akhir sesi workshop, dr. Rini menyebutkan bahwa sebaiknya latihan ini dilakukan secara rutin sebanyak 10-20 set tiap harinya untuk menjaga kesehatan tubuh.


Mentari yang terus bersinar cerah hari itu menggambarkan keceriaan HBK yang berlangsung hingga lewat tengah hari. Setelah acara ditutup, para peserta bersama Ibu Rini berfoto bersama di taman belakang Rumah KAIL. Di akhir acara, menepati nasihat Ibu Rini mengenai makanan, para peserta bersantap siang bersama dengan sajian nasi karedok, buah-buahan, dan jamu tradisional. Secara keseluruhan, acara berlangsung ceria dan cair dengan banyak selingan tawa dan canda. Dr. Rini yang cukup senior rupanya mampu membawa acara dengan ringan dan santai di depan peserta.

Hidup sehat rupanya cukup mudah diperoleh dengan konsisten menerapkan pola hidup sehari-hari yang positif. Melalui dr. Rini, para peserta memperoleh pengetahuan mengenai pengaturan makanan hingga pelatihan bernapas untuk mengaktifkan kemampuan tubuh menyembuhkan dirinya sendiri. Latihan olah napas ini pun dapat dilakukan dengan sangat mudah. Format gerakan berseri pun memudahkan kita untuk melakukan olah napas dalam sesi-sesi pendek sepanjang hari di sela-sela kesibukan.

Pada akhirnya, sesuai dengan harapan yang disampaikan oleh para peserta di awal acara, pengetahuan yang diperoleh selama seminar dan workshop diharapkan dapat diterapkan secara konsisten untuk dapat menjaga kesehatan tubuh secara holistik.

[LIPUTAN] Peluncuran Pro:aktif Online: Mengenal Diri Bagi Aktivis

oleh Claudia Andjani


Telah diadakan Peluncuran Pro:aktif Online dengan tema Mengenal Diri Bagi Aktivis. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 29 April 2017 di Rumah Kail. Para relawan kontributor majalah Pro:aktif Online hadir sebagai pembicara. Turut hadir pula 11 peserta dari berbagai latar belakang seperti mahasiswa, pegiat anak, pegiat lingkungan, maupun masyarakat umum.



Acara hari itu dibuka dengan beraktivitas di halaman belakang Rumah Kail. Seluruh peserta mulai memperkenalkan diri sambil berdiri melingkar. Dengan dipandu oleh relawan fasilitator Debby Josephine, peserta melakukan meditasi bersama. Alunan musik yang mengiringi, bersama sinar matahari pagi menambah rasa relaks kami pagi itu. Setelah selesai bermeditasi, Debby mulai memberikan pengenalan tentang Kail dan Rumah Kail. Peserta juga diajak berkeliling Rumah Kail, sambil diberi penjelasan tentang fungsi dari setiap bagian Rumah Kail. Setelah berkeliling, para peserta diajak masuk ke dalam Rumah Kail dan acara pun dilanjutkan. Kali ini, disampaikan pengantar dari KAIL, kemudian dilanjutkan penjelasan tentang Hari Belajar Kail itu sendiri, diikuti pengenalan majalah Proaktif Online yang segera diluncurkan. Setelahnya, peserta dipersilahkan untuk rehat sejenak dan menikmati makanan dan minuman sehat yang telah disiapkan. Hari itu, hidangan yang disajikan di antaranya pisang rebus dan wedang jahe hangat.


Acara dilanjutkan dengan sesi pertama yaitu sesi sharing penulis Proaktif Online, dengan tema Pentingnya Mengenal Diri untuk Aktivis. Acara ini dipandu oleh moderator Navita K. Astuti, Dalam sesi ini, Anastasia Levianti mengawali dengan berbagi cerita mengenai perkataan dosen beliau semasa berkuliah di jurusan psikologi dahulu, yaitu “Setiap pendapat manusia adalah refleksi”. Beliau juga mengkombinasikan cerita tersebut dengan pengalaman beliau dalam menghadapi rasa kesalnya dengan seorang teman di masa lalu. Dari pengalaman tersebut, beliau mengajak para peserta untuk merefleksikan diri; berkaca dari apa yang telah dilakukan sebelum menghadapi suatu masalah. Kami diajak untuk “berdamai” dengan suatu hal atau masalah atau apapun yang dihadapi. Bahwa diperlukan kondisi diri yang “netral” untuk menggali potensi terbaik dari tiap diri kita. Dengan begitu, kita dapat menghadapi permasalahan kita dengan lebih baik.

Di sesi pertama ini, Fransiska M. Damarratri juga membagi pengalamannya terkait dengan refleksi diri. Beliau membagi cerita-cerita yang didapatkan saat bercakap-cakap dengan berbagai aktivis tentang bagaimana mereka menemukan dan menjaga rasa keprihatinan akan berbagai hal di sekitarnya. Dijelaskan bahwa para pegiat atau aktivis tersebut pada umumnya memiliki kesamaan, dimana dalam melakukan kegiatannya, mereka senantiasa mengenali diri mereka sebelum bertindak.


Sesi berbagi 1 pun berakhir, tiba waktunya untuk makan siang. Makanan yang dihidangkan oleh KAIL ini juga merupakan makanan sehat, yaitu nasi dengan lauk pauk berupa sayur urap, tempe goreng, dan telur; makanan pun dihias dengan cantik dengan dilengkapi bunga berwarna ungu yang ternyata bisa dimakan. Peserta diajak menyantap makan siang seperti cara makan tradisional; duduk secara lesehan bersama-sama membentuk lingkaran, kemudian makanan di-estafet-kan dari orang satu ke orang lainnya. Suasana siang itu terasa akrab, dilengkapi obrolan singkat dan angin semilir yang masuk dari halaman rumah. Makan siang hari itu diikuti dengan games ringan dengan seluruh peserta.



Setelah makan siang, peserta pun diminta untuk menuliskan gambaran tentang diri kita dalam beberapa kertas kecil berwana, kemudian peserta dibagi dalam kelompok kecil. Dalam kelompok kecil tersebut, peserta berbagi tentang kelebihan dan kelemahan diri masing-masing, serta memberikan masukan satu sama lain. Akhirnya, para peserta merangkai masukan-masukan tersebut dalam suatu kertas karton besar, dan mempresentasikannya di depan yang lain. Beberapa kesimpulan didapat; sungguh cara yang menarik, jawaban-jawaban akan pertanyaan dalam diri ternyata tidak jauh dan tidak serumit yang dibayangkan, dan ternyata orang-orang di sekitar kita dapat membantu kita, mengenal diri kita sendiri.

Sesi selanjutnya dipandu oleh relawan moderator Melly Amalia. Pembicara Yanti Herawati membagi perjalanannya dalam mengenal diri. Beliau bercerita tentang kesulitan yang dihadapi semasa kecilnya dan bagaimana beliau menemukan kedamaian setelah mencoba membagi waktu dengan alam. Sambil bercerita, beliau menunjukkan foto-foto yang menunjukkan momen-momen beliau di alam terbuka, khususnya di sekitar Bandung. Ternyata proses mengenal diri tidak selalu harus dilakukan saat di tempat yang ruang yang sepi, melainkan dapat dilakukan dimana saja. Alam terbuka, sebagai salah satu alternatif lokasi bagi kita dalam mengenal diri, dapat membantu kita menyadari apa yang Tuhan berikan pada kita, berefleksi atas segala yang terjadi pada kita, hingga akhirnya bersyukur dan berbahagia karenanya.




Sesi berbagi ini kemudian dilanjutkan dengan Dyahsynta Hadiansyah, seorang praktisi yoga yang membagi pengalamannya mulai dari sebelum menjadi pelatih. Ia belajar bahwa dalam berolahraga seyogyanya membuat kita lebih mengenal dan mencintai tubuh kita. Hal inilah yang beliau dapatkan dari yoga, dan akhirnya membuat beliau memutuskan mempelajarinya lebih dalam. Beliau bercerita bahwa yoga tidak hanya membuat tubuhnya bugar, tetapi juga membuatnya belajar banyak tentang hidup, dan membuat beliau lebih mengenal serta mencintai tubuhnya. Sesi ini kemudian ditutup dengan berlatih yoga ringan yang dipandu oleh Synta.


Rangkaian acara ini didukung oleh para relawan: Debby Josephine sebagai fasilitator, Melly Amalia sebagai moderator, Fadhilahani Aulia sebagai notulis, dan Claudia Andjani sebagai foto dan liputan.


Sebelum sesi akhir dimulai, peserta kembali disuguhkan dengan makanan sehat, yaitu rujak buah segar dan tentu saja jahe hangat. Setelahnya, penghargaan bagi para relawan penulis Proaktif Online berupa buku pun dibagikan. Setiap penulis Proaktif Online berhak mendapatkan buku bacaan dari Kail. Lalu sebelum pulang, dibagikan pula doorprize untuk peserta dari kebun Kail yaitu buah-buahan serta bibit tanaman.

[LIPUTAN] Memahami Kompleksitas melalui Seni Gerak dan Tari

Liputan Hari Belajar KAIL

Pagi itu, Sabtu, 18 Maret 2017. Meski hujan mengguyur tanah Bandung sejak subuh, tapi langkah para peserta untuk hadir dalam kegiatan Hari Belajar KAIL (HBK) pun tidak surut. HBK kali ini dibawakan oleh Ratna Yulianti (Bude Ratna) dari Semesta Tari dengan tajuk “Nusantari”. HBK Nusantari dihadiri oleh 13 peserta berlatar belakang aktivis, mahasiswa, maupun peminat tari. Sesuai dengan semangat dan keahliannya, Bude Ratna mengajak para peserta untuk berlatih sekaligus memahami seluk beluk seni gerak dan tari, terutama dari budaya Nusantara Indonesia.

Bude Ratna dari Semestar Tari memberikan materi pengantar Nusantari dan berkesadaran
dalam seni gerak dan tari. (Dok KAIL)

Bude Ratna mengawali sesi pada hari itu dengan presentasi mengenai seni gerak dan tari. Ia mengawali presentasinya dengan mengungkapkan satu kata: kompleksitas. Sebuah tarian memiliki kompleksitas tertentu yang membutuhkan kesadaran dan kepekaan para pelaku tari. Ditambah lagi, dengan beragamnya budaya asal tarian di negara Indonesia, yang menambah kompleksitas antara satu tarian dengan tarian yang lain. Sebuah tarian selain memiliki aspek teknis dan memiliki aspek kontekstual yang ditinjau berdasarkan latar belakang historis, budaya atau lingkungan yang melatarbelakangi terbentuknya sebuah tarian.

Apakah tari merupakan sebuah gerakan yang indah? Ya, semua tarian adalah ekspresi keindahan. Namun, keindahan itu relatif sifatnya, tergantung selera maupun budaya yang melatarbelakangi terciptanya sebuah tarian. Bude Ratna memberi contoh tarian yang dilakukan oleh para lelaki di Flores dengan gerakannya yang bernuansa maskulin. Beliau juga memberi contoh Tari Topeng khas Cirebon yang ditarikan oleh Rasinah. Setiap tarian memiliki keindahannya masing-masing.

Sebuah tarian didukung oleh elemen-elemen dasar berikut ini: ruang, tenaga, waktu dan makna penjiwaan. Dalam sebuah tarian, tubuh yang menari membutuhkan ruang sekaligus menciptakan ruang. Tenaga, adalah energi yang dikeluarkan untuk sebuah tarian. Besar kecilnya energi dalam sebuah tarian melahirkan dinamika gerak yang keras maupun lembut. Waktu, terkait dengan pengorganisasian irama antara lagu dan gerak. Irama dapat diatur cepat atau lambat sesuai dengan kebutuhan.

Berdasarkan elemen-elemen dasar yang mendukung sebuah tarian, Bude Ratna mengajak para peserta untuk masuk ke dalam penyusunan sebuah tari kreatif (creative dance). Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok. Setiap kelompok diberi jenis tarian Nusantara dari tiga daerah, yaitu: Jawa, Bali dan Melayu.
Sebelum sesi kelompok, Bude Ratna mengajak peserta mengenali ruang dan diri melalui pemanasan. Selain itu peserta Pelatihan juga disuguhi panganan sehat dan jamu dari Rumah KAIL (Dok KAIL)

Kelompok-kelompok tersebut diberi waktu 30 menit untuk merancang tarian dengan ciri khas gerakan dari daerah yang dimaksud. Setiap orang di dalam kelompoknya diharapkan menyumbang satu jenis gerakan. Sesudah berlatih selama 30 menit, setiap kelompok mendapat kesempatan untuk mempertunjukkan rancangan tarian mereka.

Peserta dibagi menjadi tiga grup tari yang masing-masing berproses secara berkelompok. (Dok KAIL)

Di akhir acara, para peserta diajak untuk merefleksikan pengalaman merancang tarian di dalam kelompok. Refleksi peserta cukup beragam. Di antaranya mengungkapkan bahwa dengan belajar sebuah tarian, ia menyadari kemampuan diri dan keterbatasannya. Seorang peserta pun mengungkapkan pemaknaannya bahwa dalam kompleksitas sebuah tarian, seseorang perlu memahami dan mendengarkan orang lain. Sementara peserta lain tersadar, bahwa sebuah tarian dapat memberikan sebuah pesan tertentu. Semua penari di dalam kelompok memiliki kesempatan memberikan kontribusi dan aspirasi tentang alur dan gerak tarian. Dalam hal ini, terjadi komunikasi dan proses saling memahami antar anggota tim yang memiliki latar belakang beragam.

Akhir kata, pengalaman berlatih gerak dan tari bersama Bude Ratna memberi kesempatan bagi para peserta untuk pertama-tama memahami kondisi dan diri sendiri. Selanjutnya, para peserta turut berproses memahami kondisi, kehendak, dan keberagaman yang terjadi dalam proses berkelompok. Proses memahami kompleksitas dalam tari tersebut menjadi praktek pembelajaran tersendiri bagi para peserta Hari Belajar Kail.


Foto bersama seluruh peserta setelah melaksanakan presentasi tari singkat satu sama lain. (Dok KAIL)

Lokakarya Self Healing untuk Staff dan Relawan KAIL

Fransiska Damarratri & Any Sulistyowati 

Pada tanggal 4-5 Februari 2017 yang lalu KAIL menyelenggarakan lokakarya self healing untuk para staff dan relawan KAIL. Lokakarya tersebut diselenggarakan di Rumah KAIL, pada hari Sabtu, 4 Februari 2017 pukul 09.00 pagi sampai hari Minggu, 5 Februari 2017, pukul 14.00 sore. Pelatihan ini dihadiri oleh 19 peserta yang terdiri dari 4 staff dan 15 orang relawan KAIL. Mereka terdiri dari 6 laki-laki dan 13 perempuan. Sejumlah 6 relawan pendukung kegiatan pun hadir dan membantu penyelenggaraan. Peserta sangat bersemangat mengikuti seluruh proses pelatihan ini. Mereka menyimak setiap penjelasan, mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mempraktekkan berbagai metode self healing yang diajarkan dengan sungguh-sungguh.



 
Bertindak sebagai tim trainer dan fasilitator adalah Intan Darmawati (Hunk) dan Alvieni Angelica (Alvie). Selama lokakarya ini mereka memperkenalkan berbagai teknik self healing dari berbagai penjuru dunia yang dikembangkan oleh Capacitar International, sebuah organisasi internasional yang didirikan oleh Patricia Mathes Cane, PhD dan berjejaring di 40 lebih negara. Capacitar berfokus pada pemberdayaan dan solidaritas melalui penyembuhan bagi sesama kita yang menjadi korban perang, kekerasan, kemiskinan maupun bencana.






Metode-metode yang diajarkan selama self healing ini antara lain adalah (1) Tai Chi, (2) Salute to the Sun, (3) Berbagai teknik pemijatan seperti drum massage dan head-neck-shoulder release, (4) Pal Dan Gum, (5) Pain Drain untuk menghilangkan rasa sakit, (6) Polaritas untuk recharging diri, (7) Fingerholds untuk mengelola emosi, (8) Orhiba dari Indonesia, (9) Leadership Dance, (10) Latihan Pernapasan, hingga (11) The Holds. Setelah sesi sore berakhir di hari Sabtu, para peserta mengikuti ramah tamah dengan menghangatkan diri di api unggun sambil menikmati jagung bakar dan bir pletok hangat. Mereka dapat bertukar informasi dan pengalaman agar lebih saling mengenal satu sama lain.



Lokakarya ini dapat terlaksana dengan dukungan para relawan pendukung kegiatan, di antaranya para relawan notulen, foto, video, logistik dan konsumsi. Akhir kata, terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk keberhasilan lokakarya ini.



***

Membuat Produk Kebersihan Sendiri bersama Botanina

Oleh: Kukuh Samudra


Hari Minggu, 8 Mei 2016 Rumah Kail kedatangan tamu dari Botanina. Selama ini Botanina berkegiatan mengembangkan produk-produk homecare maupun skincare berbahan alami. Dibimbing oleh Botanina, hari itu staf kail beserta peserta workshop yang berasal dari berbagai latar belakang berencana membuat produk kebersihan sendiri. Peserta workshop yang hadir waktu itu ada lebih dari 10 orang. Pada saat perkenalan, mereka mengaku penasaran cara membuat produk kebersihan sendiri. Pertama-tama Kak Tina dan Kak Olva dari Botanina menjelaskan awal terbentuknya organisasi mereka. Kak Tina, sebagai pendiri, terpikir untuk membuat produk kebersihan rumah dan produk perawatan bayi saat hamil.

Menurut Kak Tina selama ini kita tidak paham proses dan bahan yang digunakan untuk membuat produk kebersihan maupun perawatan bayi yang beredar di pasaran. Padahal, produk-produk tersebut sebetulnya mengandung bahan-bahan sintetis yang memilki efek samping buruk bagi kesehatan pada jangka panjang.

Menurut Kak Tina, alam sebetulnya telah memberikan segalanya bagi kita. Kak Tina mengaku pernah menangis ketika mengoleskan minyak telon alami yang dibuat sendiri untuk anaknya. "Terima kasih alam, engkau telah melindungi anakku," begitu tutur Kak Tina.


Terdapat dua jenis produk yang dikembangkan oleh Botanina, yaitu produk kebersihan rumah tangga dan perawatan tubuh. Menurut Kak Tina, Botanina saat ini lebih fokus mengembangkan produk perawatan rumah tangga. Alasannya adalah selama ini sudah banyak organisasi lain yang mengembangkan produk perawatan tubuh. Kak Tina menambahkan, selama ini banyak dari kita mungkin lebih memerhatikan estetika tubuh dibandingkan kesehatan keluarga.

Botanina mulai mengembangkan produk-produk mereka sejak lima tahun yang lalu, tapi pemasarannya baru sekitar dua tahun yang lalu. Produk-produk yang mereka kembangkan beraneka ragam mulai dari sabun, produk kesehatan mulut, pestisida alami, hingga pewangi ruangan. Hari itu peserta workshop di Rumah Kail membuat beberapa produk kebersihan mulai dari pasta gigi, obat kumur, pembersih furnitur, dan pestisida alami Untuk membuat pasta gigi bahan yang dibutuhkan adalah garam, baking soda, coklat, charcoal (arang bubuk), madu, dan minyak kelapa. Bahan-bahan tersebut merupakan resep lengkap yang dapat disederhanakan sesuai dengan ketersediaan. Sifat material utama yang dibutuhkan sebuah pasta gigi adalah abrasif, mampu membantu proses re-mineralisasi gigi, dan berbentuk pasta agar mudah digunakan. "Efek busa pada pasta gigi sebetulnya hanya sugesti agar memiliki efek membersihkan," tutur Kak Olva.


Teman teman Botanina menambahkan seringkali kita terobsesi terhadap gigi yang sangat bersih sehingga mematikan seluruh bakteri yang ada di tubuh. Tujuan utama sebuah produk pembersih bukan mematikan seluruh bakteri, tapi menciptakan keseimbangan ekosistem mulut sehingga bakteri yang bermanfaat masih dapat hidup. Arang bubuk dan soda kue misalnya memiliki sifat abrasif, sehingga keduanya dapat saling menggantikan atau saling melengkapi. Sementara coklat dan garam dibutuhkan untuk proses remineralisasi gigi. Yang terakhir, minyak kelapa digunakan untuk melarutkan bahan-bahan sementara madu untuk membuat rasa lebih enak.

Produk selanjutnya adalah obat kumur. Bahan-bahan yang digunakan ternyata sederhana dan sering kita temui sebagai bumbu dapur seperti kayu manis, cengkeh, dan kapulaga. Bahan-bahan tersebut kita rebus bersama-sama. Setelah dingin, tambahkan garam dan sedikit baking soda sebagai agen pembersih.

Beralih ke membuat pembersih furnitur, poin penting yang perlu diperhatikan adalah pengenalan sifat bahan dan fungsinya. Untuk membuat pembersih furnitur kaca atau besi, kita membutuhkan bahan bersifat basa. Baking soda cukup kita larutkan dengan air dan sedikit cuka. Sedangkan untuk mengusir hama dan serangga, Botanina mengenalkan produk campuran 10 essential oils. Setiap serangga atau hama memiliki ketakutan sendiri terhadap suatu flora tertentu. Sebagai contoh tikus yang takut dengan kopi, sementara nyamuk takut dengan lavender. Untuk membuat pestisida alami, kita bisa menggunakan campuran essential oils yang dilarutkan dalam air di botol semprot. Sebagai pengganti kamper, beberapa tetes pada potongan kain flannel bisa digantungkan dalam lemari. Perlu dipaham bahwa essential oils adalah ekstrak minyak tumbuhan yang diproses dengan teknik destilasi hingga memiliki kepekatan setara 50 kali lipat.


Membuat produk kebersihan sendiri ternyata cukup mudah asalkan kita mengenali sifat dan fungsi bahan yang akan kita manfaatkan serta proses pembuatan yang aman dan alami.

Ayo Buat Sendiri Produk Pembersihmu

Oleh: Tien Widiyaningrum

Seorang ibu rumah tangga mau tidak mau harus bersentuhan dengan berbagai produk pembersih setiap harinya. Mulai dari deterjen, sabun cuci piring, pasta gigi, cairan pel, dan lain sebagainya. Tapi tahukah Anda bahwa produk pembersih yang biasa kita beli di toko-toko terdekat itu tidak semuanya aman?

Produk-produk pembersih itu pada awalnya dibuat untuk memudahkan aktivitas harian. Namun banyak dari kita tidak menyadari bahanya dampak produk komersil berbasis bahan kimia, dari mulai efek jangka panjang bagi kesehatan keluarga dan pencemaran lingkungan akibat proses produksi dan limbah. Atas dasar itulah Botanina bekerjasama dengan Rumah Kail membuat workshop mengenai cara membuat produk pembersih rumah tangga dengan bahan dasar yang cukup mudah kita temui sehari-hari.

Workshop ini dilaksanakan di Rumah Kail pada hari Minggu, tanggal 8 Mei 2016. Acara dimulai sekitar pukul 10.00 hingga pukul 13.00. Workshop diikuti oleh 24 orang peserta dari berbagai daerah dan kalangan, mulai dari mahasiswa sampai ibu rumah tangga. Kali ini Olva dan Tina dari Botanina secara bergiliran menceritakan bagaimana caranya membuat pasta gigi, mouthwash, all purpose cleaner (versi cairan dan versi bubuk), pest & germ control, pembersih kayu, dan cairan pel. Tidak hanya itu, Olva dan Tina pun menjelaskan dengan rinci fungsi dari setiap bahan dasar yang digunakan dalam membuat produk-produk pembersih tersebut.


Antusias peserta cukup tinggi. Banyak dari mereka yang mengajukan berbagai pertanyaan menarik sehingga menghidupkan suasana di dalam workshop. Ada pula salah satu peserta yang anaknya sangat sensitif terhadap produk pembersih komersil sehingga dia begitu bersemangat dalam mengikuti workshop ini. Beberapa peserta workshop berharap mereka bisa mengetahui cara membuat sabun alami. Namun sayangnya karena proses pembuatan sabun cukup rumit dan panjang, Botanina tidak memberikan workshop tersebut. Mungkin di lain waktu Rumah Kail bisa punya kesempatan lagi mengadakan workshop khusus untuk membuat sabun alami bagi para peserta yang masih penasaran. Kita tunggu saja.

[LIPUTAN] Hari Belajar Kail: Membuat Fermentasi Rumahan : Kombucha dan Kimchi

Oleh: Perswina Alaili

Pembukaan oleh Melly Amalia (KAIL) dan Dhila Baharuddin 
(Tepian Collective).
KAIL (Kuncup Padang Ilalang) mengadakan acara Hari Belajar KAIL pada hari Minggu, 6 Maret 2016 dengan tema Membuat Fermentasi Rumahan: Kombucha dan Kimchi, dengan narasumber Dhila Baharudin (Tepian Collective).

Cuaca pada saat itu mendung, agak gerimis, dan berangin. Peserta mulai berkumpul pukul 09:00, dan acara dimulai sekitar pukul 10.00. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok. Peserta HBK kali ini terdiri atas anak usia 9 tahun hingga ibu-ibu rumah tangga. Dhila membuka acara dengan sejarah pembuatan kimchi di Korea.

Pembuatan Kimchi

Kimchi adalah sayuran dengan campuran berbagai bumbu yang diawetkan melalui metode fermentasi. Kimchi ini biasa dikonsumsi sebagai side dish, dapat dikonsumsi langsung atau dapat dimasak menjadi sup, tumis sayuran, dan lain-lain. Umumnya Kimchi dibuat dari jenis sayuran sawi putih, namun di tempat asalnya Kimchi dibuat dari berbagai jenis sayuran yang terdapat di daerah lokal. Kimchi dapat disimpan dalam waktu yang lama dan berguna untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari.

Fermentasi Kimchi dilakukan dengan memanfaatkan agen biologis seperti bakteri untuk menguraikan berbagai zat di dalam makanan agar lebih mudah dicerna oleh tubuh. Kegiatan membuat Kimchi secara bersama-sama disebut “kimjan”, dan dapat dilakukan untuk mengisi waktu luang sambil berkumpul bersama keluarga.

Dhila menjelaskan bahan-bahan yang diperlukan untuk membuat Kimchikimchi (kiri dan kanan) 
Kimchi biasa dibuat dari berbagai jenis sayuran, namun yang paling populer adalah dari sawi, wortel, dan ketimun. Di Korea, Kimchi utuh dipotong-potong sebelum disajikan sebagai makanan pendamping (side dish) di meja makan. Kimchi juga dapat dimasak kembali sebagai campuran untuk menumis daging sapi, ayam, babi, dan sayuran lainnya, atau bahkan dibuat kuah sup yang bercita rasa pedas dan asam. Mengonsumsi kimchi dapat menyehatkan saluran pencernaan karena kita mengonsumsi bakteri baik saat mengonsumsi kimchi. Serat dan kandungan gizi pada sayuran juga lebih mudah dicerna oleh tubuh karena telah melalui proses fermentasi oleh bakteri. Kimchi juga dapat ditaburi dengan wijen untuk menambah kelezatan. Selain sup dan sayuran, kimchi dapat dibuat menjadi campuran pancake, nasi goreng, atau kimbap (nasi gulung khas Korea).

Bahan-bahan dan peralatan yang dibutuhkan telah disediakan di atas meja-meja. Bahan-bahan untuk mebuat kimchi antara lain sawi putih, wortel, timun, dan bumbu-bumbu yang dibutuhkan seperti kucai, daun seledri, bawang putih, jahe, bawang bombay, dan kecap asin.

Pada saat workshop, peserta menyimpan lembaran kimchi di dalam kotak makanan plastik. Lembaran ini diusahakan ditumpuk dalam keadaan padat. Kimchi dapat langsung dikonsumsi atau disimpan. Dalam 2 hari, kotak makanan yang tertutup rapat akan mengembung sehingga Anda perlu berhati-hati saat membuat dan menyimpan kimchi yang sudah Anda buat.

Membuat Kombucha

Dhila menjelaskan komponen-komponen yang dibutuhkan untuk membuat kombucha (atas),
bibit Scoby (tengah), dan larutan teh yang dicampur dengan gula (bawah)
Selanjutnya, Dhila juga sudah menyiapkan bahan-bahan untuk membuat teh kombucha. Kombucha adalah minuman yang mengandung sangat sedikit alkohol. Minuman ini juga dibuat dengan cara fermentasi. Agen biologis yang digunakan adalah koloni dari bakteri dan jamur yang disebut SCOBY (Symbiotic Culture of Bacteria and Yeast) yang bentuknya berupa lembaran, mirip dengan Nata de Coco. Scoby adalah campuran dari bakteri Acetobacter dengan jamur ragi yang umumnya spesies Brettanomyces bruxellensis, Candida stellata, Schizosaccharomyces pombe, Torulaspora delbrueckii, dan Zygosaccharomyces bailii.

Prinsip pembuatan kombucha adalah membuat larutan dengan gula, kemudian diberi bibit Scoby secukupnya dan difermentasikan selama > 7 hari. Ragi akan mengubahnutrisi dan gula menjadi alkohol dalam jumlah yang sangat sedikit. Bakteri akan memecah ikatan gula dan nutrisi yang terkandung dalam larutan sehingga lebih mudah dicerna oleh tubuh. Inilah alasan mengapa kombucha aman untuk dikonsumsi oleh penderita diabetes, karena glukosa atau fruktosa telah diubah menjadi jenis gula yang lebih mudah dicerna oleh tubuh.

Kombucha dapat juga digunakan sebagai cuka dengan cara disimpan lebih lama hingga mencapai kadar keasaman tinggi. Cuka ini dapat digunakan untuk masakan dan juga bahan pembersih ruangan. Selain kombucha dan cuka, jika Anda penyuka manisan atau acar-acaran, anda juga dapat merendam buah-buahan (atau bahan lainnya seperti kulit jeruk, potongan jahe, dll) yang anda suka di dalam larutan kombucha. Buah-buahan maupun bahan-bahan hasil rendaman ini dapat dikonsumsi dan disajikan dengan gula agar rasanya lebih manis.

Hari Belajar KAIL ditutup dengan makan siang dengan menu kimchi dan sayuran yang telah dibuat oleh peserta sebelumnya. Meskipun cukup singkat dan dengan biaya pendaftaran yang sangat terjangkau/murah, peserta mendapatkan banyak manfaat berupa ilmu dan juga kebahagiaan berbagi dengan peserta yang lainnya. Sampai jumpa di Hari Belajar KAIL edisi selanjutnya!

***