[INFO KEGIATAN] Klub Cara Berpikir Sistem: Systems Archetype



Bagaimana perasaan Anda setelah mengikuti pelatihan CBS dasar?
Masih punya pertanyaan? Masih ingin belajar & mengulik?

Tahukah Anda jika pelatihan CBS dasar hanya sebagian kecil mengenai semesta cara berpikir sistem? Bagi yang masih bersemangat belajar, mari belajar bersama di kegiatan:

Klub CBS September 2018
Systems Archetype
Trainer: Any Sulistyowati

Hari: Sabtu, 22 September 2018
Waktu: 13.00-18.00

Tempat: Rumah KAIL
Kp. Cigarugak, RT 03/RW 12 No. 37,
Desa Girimekar, Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung (bit.ly/rumahkail)

Biaya Kontribusi: Rp 25.000,00/peserta
(Peserta akan mendapatkan snack sore. KAIL juga membuka kesempatan bagi peserta untuk menyumbang secara sukarela atau berbagi makanan sehat-tidak bersampah untuk dibawa saat pelatihan. Kami berusaha agar klub ini dapat disokong bersama-sama para anggota sehingga kegiatan ini dapat terus berlanjut.)

Pendaftaran:
(Kegiatan ini terbatas untuk alumni pelatihan Cara Berpikir Sistem KAIL semua angkatan.)

Informasi:
0813-9429-0336 (SMS/WA)

[INFO KEGIATAN] Pelatihan Cara Berpikir Sistem 15 September 2018


Perkumpulan KAIL kembali menyelenggarakan

Pelatihan Cara Berpikir Sistem
Angkatan ke-35
"Pengembangan Organisasi dan Masyarakat”

Sabtu, 15 September 2018
Pukul 08:00-18:00

di Rumah KAIL
Kp. Cigarugak, Desa Girimekar, Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung
Peta: bit.ly/rumahkail

Kontribusi:
Rp 125.000 (Mahasiswa D1-S1/Aktivis/Pekerja Sosial)
Rp 250.000 (Mahasiswa S2-S3/Karyawan/Umum)
*Tersedia biaya khusus untuk pendaftaran berkelompok 6 orang.

Silakan mengisi formulir pendaftaran di bit.ly/CBS0918
Paling lambat tanggal 13 September 2018 (pukul 09.00), kuota terbatas.

Informasi:
0813-9429-0336(SMS/WA)
kail.informasi@gmail.com

Mari kita belajar berpikir sistem bersama untuk menghadapi tantangan-tantangan dunia. Sampai jumpa di Rumah KAIL.

Salam,
Perkumpulan KAIL

#systemsthinking #KailBandung #caraberpikirsistem #bandung #workshop #workshopbandung

[INFO KEGIATAN] Donasi Barang Kebutuhan Anak untuk Bazaar Ultah KAIL 2018


Donasikan barang bekas layak pakai Anda!

Dalam rangka perayaan HUT KAIL ke-16 dan HUT RI ke-73, KAIL kembali mengadakan Bazaar murah kebutuhan anak-anak untuk warga Kampung Cigarugak, Desa Girimekar, Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung.

KAIL mengajak kawan sekalian mendonasikan barang (diutamakan bekas) untuk berbagai kebutuhan anak.

Donasi dapat berupa:
buku bacaan (non-pelajaran), majalah, mainan, perlengkapan sekolah, alat gambar/warna, alat olahraga, perlengkapan kebersihan, peralatan makan dan minum, pakaian dan aksesoris anak, serta alat musik.

Batas akhir pengumpulan donasi:
Rabu, 15 Agustus 2018.

Narahubung:
Kukuh 0857-2534-4197 (WA/SMS)

*Barang yang didonasikan harus layak pakai.
**Penggunaan barang bekas untuk memperpanjang umur pakai barang.
**Hasil penjualan di Bazaar akan digunakan untuk mendukung kegiatan anak di Kampung Cigarugak.

Mohon bantuan kawan-kawan untuk menyebarkan informasi ini dan mengajak orang lain untuk berdonasi juga!

Terima kasih 😊 🙏

#16tahunKAIL #kailbandung #bandung

[INFO KEGIATAN] Klub Cara Berpikir Sistem 28 Juli 2018: Mengenal Leverage Point



Dear alumni Pelatihan Cara Berpikir Sistem KAIL,

Bagaimana perasaan rekan-rekan setelah mengikuti pelatihan CBS dasar? Merasa masih bingung atau ingin belajar lebih lanjut? 
Tahukah rekan, jika pada pelatihan dasar, kita hanya belajar beberapa dari 12 tipe leverage point?

Bagi rekan yang masih penasaran, mari belajar bersama di kegiatan:

Klub CBS Juli 2018:
Mengenal Leverage Point
(Trainer: Any Sulistyowati)

Hari: Sabtu, 28 Juli 2018
Waktu: 08.00-17.30
Tempat: Rumah KAIL
Kp. Cigarugak, RT 03/RW 12 No. 37,
Girimekar, Cilengkrang,
Kab. Bandung (bit.ly/rumahkail)

Biaya Kontribusi:
Rp 50.000,00/peserta
(Termasuk makan siang dan snack. KAIL juga membuka kesempatan bagi peserta untuk menyumbang secara sukarela agar kegiatan ini dapat terus berlanjut.)
.
Pendaftaran bit.ly/klubcbsleveragepoint
Maks. Rabu, 25 Juli 2018

(Kegiatan ini terbatas untuk alumni pelatihan Cara Berpikir Sistem KAIL semua angkatan.) Informasi: 0813-9429-0336 (SMS/WA)

#systemsthinking #caraberpikirsistem #KlubCBS

[LIPUTAN] Hari Belajar KAIL: Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran 27 Mei 2018

Hari Belajar KAIL (HBK) bulan ini bertema “Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran”. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2018 ini menghadirkan dua narasumber utama: Susen Suryanto dari PIKPL Semanggi dan Angga Dwiartama, seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hayati, Institut Teknologi Bandung. Peserta dari kegiatan ini dihadiri oleh 9 orang peserta. Tidak kurang dari 3 relawan KAIL mendukung kegiatan ini , yaitu Fikri Amri dan Melly Amalia sebagai notulis serta Umbu Justin sebagai dokumentasi foto. Sedangkan 5 orang staf KAIL turut hadir sebagai relawan pada hari tersebut.

Foto bersama dengan peserta dan narasumber

Pembicara pertama, Susen Suryanto, mengawali kegiatan belajar bersama ini dengan membawakan topik “Kedaulatan Pangan Keluarga”. Ia memulai presentasinya dengan mengangkat hubungan pangan dengan kesehatan manusia. Pangan dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan berkembang. Namun, agar mencapai fungsinya yang optimal dan demi tercapainya kesehatan manusia yang mengonsumsi pangan tersebut, maka penting sekali untuk memperhatikan bagaimana memproses suatu makanan.

Susen juga mengajak peserta untuk mempertanyakan tentang kemandirian manusia dalam mengadakan bahan pangan itu dalam hidup kesehariannya. Apakah manusia, khususnya masyarakat di Indonesia telah berdaulat pangan? Apakah bedanya antara ketahanan pangan dan kedaulatan pangan? Sesungguhnya, suatu masyarakat mampu mencapai kedaulatan pangannya apabila ia mampu mengendalikan, mengadakan sendiri pangannya sejak dari pengadaan benih tanaman pangan itu sendiri.

Narasumber Susen Suryanto

Namun, pengadaan bahan pangan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh keaslian lingkungan asal dari tanaman pangan. Sehingga tanaman pangan yang khas tumbuh di suatu daerah, belum tentu memiliki rasa yang sama apabila ditumbuhkan di daerah lain. Susen memberi contoh ubi cilembu yang merupakan tanaman khas dari desa Cilembu, di kaki gunung Kareumbi, Jawa Barat. Apabila ubi cilembu ditumbuhkan di Papua misalnya, maka rasa manis ubi yang ditanam di Papua, tidak sama dengan rasa manis ubi yang tumbuh di daerah asalnya. Oleh karena itu, Susen mempercayai bahwa faktor genetik, lingkungan dan interaksi antara genetik dan lingkungan sangat besar pengaruhnya pada rasa dan penampilan suatu bahan pangan.

Susen menutup presentasinya dengan menekankan kepada pentingnya pertanian dalam seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu, jika selama ini para petani dan bidang pertanian itu sendiri, seolah-olah menjadi inferior dibandingkan aspek-aspek kehidupan lainnya, maka perlu untuk mengubah paradigma tersebut.

Materi belajar yang kedua pada HBK ini dibawakan oleh Angga Dwiartama. Angga membawakan materi berjudul “Menelusuri Jejak Pangan Kita”. Ia mengawali materinya dengan ajakan kepada para peserta untuk merefleksikan tentang makanan yang dikonsumsi selama satu minggu terakhir. Apa saja yang sudah dimakan? Dari mana makanan tersebut didapat? Dari mana penjual mendapatkan makanan tersebut? Sejauh mana kita bisa menelusuri rantai pangan kita sendiri?
Makalah yang dibawakan Angga ini mengacu pada buku yang ditulis oleh Michael Carolan, berjudul “No One Eats Alone”. Michael meyakini bahwa, ketika seseorang makan, ia tidak makan sendirian. Ia berinteraksi dengan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengadaan bahan pangan tersebut.

Narasumber Angga Dwiartama

Maka, pangan itu sendiri memiliki sebuah sistem. Sebuah sistem pangan adalah sistem yang menghubungkan pelaku pangan mulai dari pihak yang memproduksi, pihak yang memasarkan hasil produksi hingga kepada pihak yang mengonsumsi pangan tersebut.

Lebih jauh lagi, Angga mengajak untuk turut mempertimbangkan satu faktor dalam sistem pangan, yaitu ecological footprint (jejak ekologi) di dalam sistem pangan kita. Jejak ekologi di dalam sistem pangan mengukur dampak langsung serta tidak langsung dari mekanisme pengadaan bahan pangan yang dikonversi ke dalam jumlah karbon yang dihasilkan dari pengadaan pangan tersebut. Angga memberi contoh perbandingan bahan pangan yang diperoleh dari pasar lokal terdekat dengan bahan pangan yang diperoleh secara impor yang dibeli di supermarket yang jaraknya sekian kilometer jauhnya dari rumah kita sendiri. Jejak karbon yang dihasilkan dari bahan pangan impor tentunya lebih besar daripada jejak karbon yang dihasilkan dari bahan pangan yang dibeli di pasar lokal terdekat. Bahan pangan yang diambil dari kebun sendiri, tentu tidak memiliki jejak karbon sama sekali.

Paralel dengan pertimbangan jejak ekologi dalam pengadaan pangan, terdapat pula perhitungan Life Cycle Analysis (LCA) sebuah produk pangan. Dalam LCA ini, per unit produk diukur dampaknya terhadap lingkungan dari pengadaan sampai setelah pemakaian.

Mempertimbangkan jejak ekologi serta LCA dalam pengadaan bahan pangan, kita tentu akan lebih mempertimbangkan lokalitas makanan yang kita peroleh. Dengan memilih pangan lokal, maka terdapat beberapa kontribusi kita terhadap ekologi (mengurangi terbentuknya karbon di udara) dan secara ekonomi kita lebih memenangkan sistem ekonomi moral dibandingkan ekonomi pasar. Angga menutup materinya dengan memaparkan aktor-aktor yang sudah bergerak di bidang pangan lokal dengan jejak ekologis rendah. Ia

Materi yang dibawakan oleh kedua narasumber ini mengundang banyak pendapat dan pertanyaan. Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, yang sedianya berlangsung kurang dari setengah jam, akhirnya memanjang sampai lebih dari satu jam. Diskusi berlangsung hangat di mana semua yang hadir dapat bertanya dan memberikan pendapat. Topik-topik sistem pangan yang muncul dalam diskusi antara lain adalah indikator carbon footprint, dampak lingkungan, genetic bank, tanaman perennial, kalender pangan, dan lain-lain.

Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung dengan hangat

Sesi diskusi dan tanya jawab diakhiri dengan pernyataan yang membawa perenungan mendalam dari Susen, tentang betapa kayanya keanekaragaman sumber daya alam dan pengetahuan pangan di Indonesia. Namun saat ini kekayaan tersebut masih kurang diolah oleh generasi masa kini. Putusnya kekayaan dan pengetahuan tersebut penting untuk disambung kembali. Tugas tersebut berada di pundak generasi muda Indonesia masa kini.

Setelah sesi tanya jawab, peserta HBK mulai praktek menubuhkan pilihan pangan berkesadaran dengan merumuskan menu makanan dan cara pengolahan, yang bahannya akan dipanen bersama langsung dari kebun KAIL. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Setiap kelompok akan membuat pilihan menu: kelompok satu membuat makanan ringan dan minuman segar, serta kelompok dua membuat pendamping nasi.


Merumuskan dan mempresentasikan menu makanan yang akan dibuat

Hasil perumusan menu pun dipresentasikan antar dua kelompok, yaitu antara lain:

1. Kelompok makanan ringan dan minuman segar, membuat: sop buah beri, setup buah jambu, wedang sereh-jahe, talas dan singkong panggang, serta sambal cabe-bawang putih-bawang merah-daun jeruk-markisa
2. Kelompok makanan pendamping nasi, yaitu : telur bebek dadar dengan daun ginseng dan kenikir, saus tomat dari campuran papaya, tomat ceri, markisa, dan talas), perkedel talas, serta tumis pepaya muda dan bunga pepaya.

Selama 2.5 jam, dari pukul 15:00 - 17:30 para peserta, staf dan relawan yang hadir melakukan panen di kebun KAIL, kemudian mengolahnya menjadi makanan dan minuman yang siap disantap bersama. Keramahtamahan dan diskusi lebih lanjut pun terjalin di sesi panen, pengolahan, hingga santap bersama.

 

 

 
Sesi panen dan mengolah pangan bersama

Acara diakhiri pada pukul 19:00 dengan refleksi bersama dari semua yang hadir. Secara umum, semua peserta termasuk panitia senang dan puas dengan keseluruhan diskusi dan praktek yang telah terlaksana sepanjang satu hari ini. Banyak pengetahuan dan kepedulian yang dibagikan bersama, untuk pilihan pangan yang lebih berkesadaran.


Refleksi akhir setelah santap bersama-sama