[INFO KEGIATAN] Klub Cara Berpikir Sistem 28 Juli 2018: Mengenal Leverage Point



Dear alumni Pelatihan Cara Berpikir Sistem KAIL,

Bagaimana perasaan rekan-rekan setelah mengikuti pelatihan CBS dasar? Merasa masih bingung atau ingin belajar lebih lanjut? 
Tahukah rekan, jika pada pelatihan dasar, kita hanya belajar beberapa dari 12 tipe leverage point?

Bagi rekan yang masih penasaran, mari belajar bersama di kegiatan:

Klub CBS Juli 2018:
Mengenal Leverage Point
(Trainer: Any Sulistyowati)

Hari: Sabtu, 28 Juli 2018
Waktu: 08.00-17.30
Tempat: Rumah KAIL
Kp. Cigarugak, RT 03/RW 12 No. 37,
Girimekar, Cilengkrang,
Kab. Bandung (bit.ly/rumahkail)

Biaya Kontribusi:
Rp 50.000,00/peserta
(Termasuk makan siang dan snack. KAIL juga membuka kesempatan bagi peserta untuk menyumbang secara sukarela agar kegiatan ini dapat terus berlanjut.)
.
Pendaftaran bit.ly/klubcbsleveragepoint
Maks. Rabu, 25 Juli 2018

(Kegiatan ini terbatas untuk alumni pelatihan Cara Berpikir Sistem KAIL semua angkatan.) Informasi: 0813-9429-0336 (SMS/WA)

#systemsthinking #caraberpikirsistem #KlubCBS

[LIPUTAN] Hari Belajar KAIL: Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran 27 Mei 2018

Hari Belajar KAIL (HBK) bulan ini bertema “Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran”. Kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 27 Mei 2018 ini menghadirkan dua narasumber utama: Susen Suryanto dari PIKPL Semanggi dan Angga Dwiartama, seorang dosen di Sekolah Tinggi Ilmu Hayati, Institut Teknologi Bandung. Peserta dari kegiatan ini dihadiri oleh 9 orang peserta. Tidak kurang dari 3 relawan KAIL mendukung kegiatan ini , yaitu Fikri Amri dan Melly Amalia sebagai notulis serta Umbu Justin sebagai dokumentasi foto. Sedangkan 5 orang staf KAIL turut hadir sebagai relawan pada hari tersebut.

Foto bersama dengan peserta dan narasumber

Pembicara pertama, Susen Suryanto, mengawali kegiatan belajar bersama ini dengan membawakan topik “Kedaulatan Pangan Keluarga”. Ia memulai presentasinya dengan mengangkat hubungan pangan dengan kesehatan manusia. Pangan dibutuhkan oleh manusia untuk hidup dan berkembang. Namun, agar mencapai fungsinya yang optimal dan demi tercapainya kesehatan manusia yang mengonsumsi pangan tersebut, maka penting sekali untuk memperhatikan bagaimana memproses suatu makanan.

Susen juga mengajak peserta untuk mempertanyakan tentang kemandirian manusia dalam mengadakan bahan pangan itu dalam hidup kesehariannya. Apakah manusia, khususnya masyarakat di Indonesia telah berdaulat pangan? Apakah bedanya antara ketahanan pangan dan kedaulatan pangan? Sesungguhnya, suatu masyarakat mampu mencapai kedaulatan pangannya apabila ia mampu mengendalikan, mengadakan sendiri pangannya sejak dari pengadaan benih tanaman pangan itu sendiri.

Narasumber Susen Suryanto

Namun, pengadaan bahan pangan itu sendiri sangat dipengaruhi oleh keaslian lingkungan asal dari tanaman pangan. Sehingga tanaman pangan yang khas tumbuh di suatu daerah, belum tentu memiliki rasa yang sama apabila ditumbuhkan di daerah lain. Susen memberi contoh ubi cilembu yang merupakan tanaman khas dari desa Cilembu, di kaki gunung Kareumbi, Jawa Barat. Apabila ubi cilembu ditumbuhkan di Papua misalnya, maka rasa manis ubi yang ditanam di Papua, tidak sama dengan rasa manis ubi yang tumbuh di daerah asalnya. Oleh karena itu, Susen mempercayai bahwa faktor genetik, lingkungan dan interaksi antara genetik dan lingkungan sangat besar pengaruhnya pada rasa dan penampilan suatu bahan pangan.

Susen menutup presentasinya dengan menekankan kepada pentingnya pertanian dalam seluruh kehidupan manusia. Oleh karena itu, jika selama ini para petani dan bidang pertanian itu sendiri, seolah-olah menjadi inferior dibandingkan aspek-aspek kehidupan lainnya, maka perlu untuk mengubah paradigma tersebut.

Materi belajar yang kedua pada HBK ini dibawakan oleh Angga Dwiartama. Angga membawakan materi berjudul “Menelusuri Jejak Pangan Kita”. Ia mengawali materinya dengan ajakan kepada para peserta untuk merefleksikan tentang makanan yang dikonsumsi selama satu minggu terakhir. Apa saja yang sudah dimakan? Dari mana makanan tersebut didapat? Dari mana penjual mendapatkan makanan tersebut? Sejauh mana kita bisa menelusuri rantai pangan kita sendiri?
Makalah yang dibawakan Angga ini mengacu pada buku yang ditulis oleh Michael Carolan, berjudul “No One Eats Alone”. Michael meyakini bahwa, ketika seseorang makan, ia tidak makan sendirian. Ia berinteraksi dengan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pengadaan bahan pangan tersebut.

Narasumber Angga Dwiartama

Maka, pangan itu sendiri memiliki sebuah sistem. Sebuah sistem pangan adalah sistem yang menghubungkan pelaku pangan mulai dari pihak yang memproduksi, pihak yang memasarkan hasil produksi hingga kepada pihak yang mengonsumsi pangan tersebut.

Lebih jauh lagi, Angga mengajak untuk turut mempertimbangkan satu faktor dalam sistem pangan, yaitu ecological footprint (jejak ekologi) di dalam sistem pangan kita. Jejak ekologi di dalam sistem pangan mengukur dampak langsung serta tidak langsung dari mekanisme pengadaan bahan pangan yang dikonversi ke dalam jumlah karbon yang dihasilkan dari pengadaan pangan tersebut. Angga memberi contoh perbandingan bahan pangan yang diperoleh dari pasar lokal terdekat dengan bahan pangan yang diperoleh secara impor yang dibeli di supermarket yang jaraknya sekian kilometer jauhnya dari rumah kita sendiri. Jejak karbon yang dihasilkan dari bahan pangan impor tentunya lebih besar daripada jejak karbon yang dihasilkan dari bahan pangan yang dibeli di pasar lokal terdekat. Bahan pangan yang diambil dari kebun sendiri, tentu tidak memiliki jejak karbon sama sekali.

Paralel dengan pertimbangan jejak ekologi dalam pengadaan pangan, terdapat pula perhitungan Life Cycle Analysis (LCA) sebuah produk pangan. Dalam LCA ini, per unit produk diukur dampaknya terhadap lingkungan dari pengadaan sampai setelah pemakaian.

Mempertimbangkan jejak ekologi serta LCA dalam pengadaan bahan pangan, kita tentu akan lebih mempertimbangkan lokalitas makanan yang kita peroleh. Dengan memilih pangan lokal, maka terdapat beberapa kontribusi kita terhadap ekologi (mengurangi terbentuknya karbon di udara) dan secara ekonomi kita lebih memenangkan sistem ekonomi moral dibandingkan ekonomi pasar. Angga menutup materinya dengan memaparkan aktor-aktor yang sudah bergerak di bidang pangan lokal dengan jejak ekologis rendah. Ia

Materi yang dibawakan oleh kedua narasumber ini mengundang banyak pendapat dan pertanyaan. Dalam sesi diskusi dan tanya jawab, yang sedianya berlangsung kurang dari setengah jam, akhirnya memanjang sampai lebih dari satu jam. Diskusi berlangsung hangat di mana semua yang hadir dapat bertanya dan memberikan pendapat. Topik-topik sistem pangan yang muncul dalam diskusi antara lain adalah indikator carbon footprint, dampak lingkungan, genetic bank, tanaman perennial, kalender pangan, dan lain-lain.

Sesi diskusi dan tanya jawab berlangsung dengan hangat

Sesi diskusi dan tanya jawab diakhiri dengan pernyataan yang membawa perenungan mendalam dari Susen, tentang betapa kayanya keanekaragaman sumber daya alam dan pengetahuan pangan di Indonesia. Namun saat ini kekayaan tersebut masih kurang diolah oleh generasi masa kini. Putusnya kekayaan dan pengetahuan tersebut penting untuk disambung kembali. Tugas tersebut berada di pundak generasi muda Indonesia masa kini.

Setelah sesi tanya jawab, peserta HBK mulai praktek menubuhkan pilihan pangan berkesadaran dengan merumuskan menu makanan dan cara pengolahan, yang bahannya akan dipanen bersama langsung dari kebun KAIL. Para peserta dibagi ke dalam dua kelompok. Setiap kelompok akan membuat pilihan menu: kelompok satu membuat makanan ringan dan minuman segar, serta kelompok dua membuat pendamping nasi.


Merumuskan dan mempresentasikan menu makanan yang akan dibuat

Hasil perumusan menu pun dipresentasikan antar dua kelompok, yaitu antara lain:

1. Kelompok makanan ringan dan minuman segar, membuat: sop buah beri, setup buah jambu, wedang sereh-jahe, talas dan singkong panggang, serta sambal cabe-bawang putih-bawang merah-daun jeruk-markisa
2. Kelompok makanan pendamping nasi, yaitu : telur bebek dadar dengan daun ginseng dan kenikir, saus tomat dari campuran papaya, tomat ceri, markisa, dan talas), perkedel talas, serta tumis pepaya muda dan bunga pepaya.

Selama 2.5 jam, dari pukul 15:00 - 17:30 para peserta, staf dan relawan yang hadir melakukan panen di kebun KAIL, kemudian mengolahnya menjadi makanan dan minuman yang siap disantap bersama. Keramahtamahan dan diskusi lebih lanjut pun terjalin di sesi panen, pengolahan, hingga santap bersama.

 

 

 
Sesi panen dan mengolah pangan bersama

Acara diakhiri pada pukul 19:00 dengan refleksi bersama dari semua yang hadir. Secara umum, semua peserta termasuk panitia senang dan puas dengan keseluruhan diskusi dan praktek yang telah terlaksana sepanjang satu hari ini. Banyak pengetahuan dan kepedulian yang dibagikan bersama, untuk pilihan pangan yang lebih berkesadaran.


Refleksi akhir setelah santap bersama-sama

[LIPUTAN] Kunjungan Hari Belajar Anak ke Festival Anak Bertanya 2018: “Mengayunkan Langkah, Meniti Masa Depan”

Pagi hari Sabtu, 12 Mei 2018, dua puluh anak di Cigarugak tak sabar menanti keberangkatan mereka ke Festival Anak Bertanya (FAB) di Gedung Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Institut Teknologi Bandung. Acara tersebut diselenggarakan satu kali dalam setahun oleh Komunitas Anak Bertanya. Tahun ini adalah tahun kedua kegiatan Hari Belajar Anak (HBA) Kail mengagendakan kunjungan adik-adik ke festival tersebut. Sebelum kegiatan kunjungan ini, kakak-kakak dari KAIL mengajak anak-anak untuk menabung dari awal biaya keikutsertaan mereka dengan selama dua bulan sebelum hari pelaksanaan. Biaya keikutsertaan tersebut sebesar Rp 15.000 untuk mendukung kegiatan kunjungan ini.

Persiapan keberangkatan dari Rumah KAIL

Briefing di depan Gedung Sabuga

Dengan menyewa dua buah angkutan umum, adik-adik berangkat didampingi para kakak relawan, termasuk tiga orang ibu perwakilan orang tua di Cigarugak. Pukul 8:30, rombongan adik-adik HBA Kail pun tiba di Gedung Sabuga. Rombongan dibagi menjadi tiga kelompok dengan kakak pendamping Siska, Didit dan Ayu. Masing-masing kelompok juga didampingi oleh ibu dari adik-adik Cigarugak; ada Ibu Ani, Ibu Cucun dan Ibu Neng. Sebelum berkegiatan di dalam FAB, anak-anak dibekali dengan tanda pengenal Kail, serta buku paspor dan pin Festival Anak Bertanya. Buku tersebut berisi lembar-lembar isian tentang komunitas yang berpartisipasi di FAB. Setiap anak yang memegang buku tersebut dapat melakukan pencatatan tentang apa saja hal-hal yang ditemukan di setiap komunitas yang dikunjungi dan menuliskan informasi yang ia peroleh di buku tersebut.

Untuk masuk ke acara FAB, adik-adik tidak dibebani biaya apapun. Sedangkan kakak yang sudah dewasa dibebani biaya tiket sebesar Rp 20.000,- per orang. Namun tiket tersebut dapat ditukarkan dengan makanan dan minuman yang setara dengan biaya. Setiap kelompok pun menukarkan tiket dengan minuman segar untuk dinikmati bersama. Karena sudah membawa botol dari rumah, minuman segar tersebut dibeli tanpa menggunakan kemasan plastik sekali pakai.

Berfoto bersama sebelum berkeliling



Setiap lembaga atau komunitas yang berpartisipasi di FAB, mengisi satu stan yang dapat dikunjungi oleh anak-anak. Lembaga dan komunitas tersebut memiliki fokus kegiatan pada pendidikan dan perkembangan anak-anak. Oleh karena itu, di setiap stand yang dikunjungi, sesuai fokus masing-masing, setiap lembaga/komunitas menunjukkan pameran foto, karya bahkan menawarkan anak-anak untuk mencoba aktivitas tertentu di stand mereka.


Melihat iguana di BDG-Reptil

Berkunjung ke stan Serat Pena

Beberapa di antara stan komunitas yang dihadiri oleh anak-anak antara lain: Komunitas Reptil Bandung, mengajak anak-anak untuk berkenalan dan bersahabat dengan hewan-hewan reptil seperti ular, tokek, biawak dan iguana. Di stand tersebut, anak-anak dapat mencoba memegang, merasakan tekstur permukaan kulit hewan-hewan tersebut, hingga meletakkan hewan-hewan tersebut di bahu mereka.

Di stand yang lain, Semesta Tari, anak-anak belajar mengenai seni olah tubuh. Berlanjut ke Temali, anak-anak belajar memilah sampah berdasarkan karakteristik materialnya. Di stand Bengkimut, anak-anak mendengarkan dongeng yang dibawakan oleh para pengasuh Bengkimut secara menarik dan atraktif. Di stand Pahlawan Bencana, dilangsungkan penyebaran pengetahuan tentang kebencanaan yang dikemas dalam sebuah drama. Di stand Bengkel Sains Unpar, anak-anak dipandu untuk melakukan berbagai percobaan sains, antara lain membuat es krim dan simulasi pembakaran gas butana di permukaan kulit yang diselubungi oleh gelembung sabun.

Mendengarkan dongen di stan Bengkimut

Terdapat sekitar 28 stand yang diisi oleh komunitas-komunitas pendidikan dan perkembangan anak, yang menyebar di sepanjang koridor Sabuga. Di bagian tengah Sabuga, terdapat dua buah panggung, panggung depan dan panggung dalam. Panggung depan diisi dengan talkshow dari komunitas-komunitas pendukung FAB yang melibatkan anak-anak maupun orang tua. Sedangkan panggung dalam yang berbentuk auditorium, diisi dengan pertunjukan film anak dan pertunjukan seni tari maupun nyanyi dari berbagai komunitas yang ada di Bandung.

 
Kiri: Seorang adik yang semangat sekali mencoba teropong. Kanan: Mendengarkan penjelasan di stan Pahlawan Bencana

 
Kiri: Bertemu kakak-kakak dari Bandung Homeschoolers. Kanan: Adik-adik mendengarkan penjelasan pemilahan sampah

Kegiatan penjelajahan anak-anak Hari Belajar Anak  di FAB diistirahatkan pada pukul 12:00 untuk makan siang bersama di halaman luar Sabuga, sambil saling berbagi cerita pengalaman satu sama lain saat mengeksplorasi FAB. Menu makan siang bersama yang dibawa dari Kail adalah nasi bakar, tumis jamur, bala-bala, dengan buah pisang dan jeruk.

Kegiatan kunjungan lalu ditutup dengan bersama-sama menonton pertunjukan tari “Cita-Cita Manta” yang dipersembahkan oleh Semesta Tari. Kemudian, di pukul 14:30 semua anak dijemput kembali oleh angkutan umum yang disewa untuk melakukan perjalanan pulang ke Cigarugak. Senyum riang dan gembira menghiasi wajah mereka ketika kendaraan membawa mereka pergi dari pelataran Festival Anak Bertanya. Senyum puas karena mendapat banyak pengetahuan dan pengalaman baru dari penjelajahan di FAB 2018. Sampai jumpa lagi di FAB tahun mendatang!

Setelah melihat pertunjukan tari, adik-adik lalu pulang dengan ceria

[INFO KEGIATAN] HARI BELAJAR KAIL: Mengambil Pilihan Pangan Berkesadaran - 27 Mei 2018


Setiap orang mengkonsumsi pangan dari berbagai sumber, setiap hari. Semua yang kita konsumsi, meresap ke dalam tubuh dan keseharian kita. Lalu menjadi kebiasaan dan kebudayaan yang kembali mempengaruhi sistem kompleks penyediaan pangan.
Pilihan berkesadaran dalam keseharian; sebuah langkah awal untuk memutus rantai masalah. Pilihan berkesadaran diharapkan dapat menjadi gerakan yang meningkatkan kualitas hidup kita, sesama, dan alam.
***


Mari bergabung dan berbagi tentang Kedaulatan Pangan dan Jejak Pangan Kita bersama Susen Suryanto dan Angga Dwiartama. Serta mendapatkan Pengalaman Pangan di Rumah KAIL mulai dari panen dari kebun, mengolah bersama-sama, hingga santap bersama di waktu berbuka puasa, dalam kegiatan:

Hari Belajar KAIL
"MENGAMBIL PILIHAN PANGAN BERKESADARAN"

Minggu, 27 Mei 2018
Pukul 10:00-19:00

di Rumah KAIL,
Kp. Cigarugak, Desa Girimekar,
Kec. Cilengkrang, Kab. Bandung

Kontribusi:
Rp 60.000/peserta
(KAIL juga menerima sumbangan sukarela
untuk membantu penyelenggaraan kegiatan)

Pendaftaran:

TOR & Agenda:

Informasi:
0813-9429-0336
(SMS/Whatsapp)

Mari bergabung, mari belajar, mari berbagi bersama!



x

[LIPUTAN] Klub Cara Berpikir Sistem 28 April 2018

Sabtu 28 April 2018, alumni pelatihan Cara Berpikir Sistem berkumpul lagi di Rumah KAIl. Kali ini kegiatannya adalah menonton film dokumenter berjudul "Trashed". Film ini menceritakan tentang sampah yang dihasilkan oleh manusia saat ini telah membebani bumi dengan sangat berat. Film tentang bumi dan lingkungan sengaja dipilih karena pada bulan April bertepatan dengan perayaan Hari Bumi sedunia.

Film "Trashed" menjelaskan secara komprehensif permasalahan sampah dihadapi oleh dunia. Mulai dari kondisi sampah yang tersebar di berbagai daerah yang tidak tertata, jumlah sampah yang semakin lama semakin menumpuk, berbagai macam mekanisme pengelolaan sampah, hingga bahaya zat-zat yang terkandung dari sampah plastik.



Terdapat tujuh peserta yang hadir, yaitu Usie Fauzia, Debby Josephine, Fransiska Damarratri, Didit Indriati, Fajar Arif, Kukuh Samudra, dan Navita Astuti. Melalui film ini, peserta dituntut untuk memahami fenomena sebagai seorang pemikir sistem. Di akhir sesi, peserta diminta untuk berbagi sistem apa saja yang ada di dalam film.

Salah satu sistem yang ditangkap oleh salah satu peserta adalah sampah plastik yang membentuk sistem terbuka. Pada mula manusia menghasilkan sampah organik yang dapat diurai dan menyatu dengan tanah untuk selanjutnya diserap oleh tanaman kembali. Proses ini membentuk sistem tertutup (siklus). Namun, sampah sekarang seperti plastik, kenyataanya tidak bisa diuraikan oleh tanah sehingga jumlahnya menumpuk. Untuk mengatasi jenis sampah ini, upaya yang intervensi/usaha intensif manusia terus diperlukan.



Topik sesi berbagi meluas. Para peserta bercerita tentang suka dalam mengintervensi problem plastik di sekitar mereka. Uniknya beberapa peserta memiliki pengalaman yang kurang lebih sama. Beberapa orang terdekat, baik teman atau keluarga, mula-mula resistan secara 'halus'. Sebagai contoh ketika Usie memperingatkan keluarganya untuk membuang sampah pada tempatnya seusai camping keluarga. Label--yang lebih pas disebut sindiran--bahwa Usie merupakan "pecinta alam" langsung disematkan.

"Seringkali kita perlu mengingatkan dengan apa yang dekat dengan mereka. Waktu itu saya menggunakan argumen menyangkut agama, bahwa agama mengajarkan kebersihan.", jelas Usie. Baru setelah itu menurut Usie, keluarganya mau untuk bersama-sama memungut dan membuang sampah camping.

Cerita hampir sama juga dialami baik oleh Debby dan Didit. Pilihan untuk mengurangi sampah plastik, seringkali ditentang oleh orang terdekat karena dianggap terlalu ribet atau tidak praktis. Namun, dengan penjelasan secara perlahan, sabar, dan konsisten, beberapa orang terdekat akhirnya mau memahami.

Klub CBS adalah ruang bagi para alumni pelatihan cara berpikir sistem untuk berkumpul, berdiskusi, dan belajar lebih jauh mengenai cara berpikir sistem. Kami berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan dimulai dari yang paling ‘pokok’ dan sederhana, yaitu makanan. Konsumsi kegiatan kami usahakan berasal dari gotong royong peserta. Pada hari itu, terkumpul beberapa konsumsi antara lain:



  1. Buah nanas dari Fajar Arif
  2. Biskuit dari Usie Fauzia
  3. Roti dari Kukuh Samudra, Fransiska M. Damarratri
  4. Saus mangga dari Navita Astuti
  5. Jamu kunyit asam dari Rumah KAIL